PARTISIMON DOT COM

Info Bisnis & Peluang Usaha
     Directory Bisnis dan Peluang Usaha, Klik Disini <-- <-- <--

Di kota kecil berdebu di Amerika, yang bernama San Bernardino, Chicago, sekitar 55 mil dari sebelah timur Los Angeles. Dari kota inilah Raymond Kroc, founder dan pembangun McDonald’s Corporation, membuktikan dirinya sebagai pelopor industri makanan cepat saji (fast food) paling tangguh dan paling laris di dunia.

Raymond Kroc, bekas salesmen mesin susu kocok yang pada waktu itu berumur 52 tahun, telah membuat banyak pebisnis terkagum-kagum karena keberhasilannya melakukan revolusi industri restoran yang menjemukan menjadi industri global yang menggurita mengalahkan industri baja di Amerika Serikat.

Karena hal inilah, konon bahkan senator LIoyd Bentsen pernah mengeluh, “ada sesuatu yang tidak beres dengan ekonomi kita jika pasar saham Amerika lebih banyak didominasi hamburger daripada baja,” ujarnya pada tahun 1974, pada waktu nilai pasar saham industri fast food Amerika berhasil melampaui nilai saham industri baja.

Namun demikianlah kenyataannya, fakta menunjukkan bahwa burger telah menjadi produk industri yang hampir sama pentingnya dengan lembaran baja. Pembangunan kompleks industri dan gedung-gedung McDonald’s yang sangat pesat di berbagai tempat di Amerika Serikat juga ikut andil dalam menyerap kebutuhan material yang amat besar, termasuk baja.

Berapa omzet anda sekarang, delapan atau sembilan milyar?” tanya Presiden Richard Nixon kepada Kroc pada tahun 1970-an. Kroc menjawab, “Mr. Presiden,sekarang angkanya telah mencapai US$ 12 milyar.”

Prestasi ini menjadi kado paling berharga pada ulang tahun Kroc yang ke-70, sebelum ia wafat pada bulan Januari 1984 dalam usia 81 tahun. Selain memiliki rumah mewah di Beverly Hills, Gedung Pertemuan di Florida yang bel pintunya berbunyi “You Deserve a Break Today” (Anda pantas mendapat kesempatan hari ini) serta team bisbol San Diego Padres yang tangguh.

KROC SEBENARNYA BUKAN PEMILIK AWAL McDonald’s

Raymond Kroc sebetulnya bukanlah pemilik awal dari Mcdonald’s. Restoran drive-in yang berdiri pertama kali di San Bernardino ini pada mulanya dimiliki oleh dua bersaudara Maurice McDonald dan Richard McDonald. Tetapi di bawah menejemen mereka, bisnis McDonald’s ternyata kurang berkembang.

Mereka pada dasarnya usahawan yang masa bodoh, hanya puas dengan US$100.000 per tahun dan tidak bersedia untuk mengeluarkan energi untuk membangun kongsi,” ujar Kroc pada waktu itu. Dan pada tahun 1930-an, McDonald bersaudara sebenarnya telah berhasil membangun restoran McDonald’s menjadi restoran cepat saji yang modern dan efisien.

Mereka telah memproduksi sembilan jenis makanan,antara lain yaitu: burger, kentang goreng, susu kocok dan pai - mengganti tempat duduk konvensional serta mengubah piring kaca ataupun porselen menjadi kertas. Dan mereka juga merancang jalur perakitan kilat sehingga mampu melayani pesanan pelanggan kurang dari 60 detik.

Pada waktu menjalani profesi sebagai salesman, Kroc sudah melihat bahwa sistem kerja seperti itu, jika diperluas akan mengantarkan McDonald’s menjadi besar. “Tetapi kenapa anda tidak memperluas rangkaian unit semacam ini?” tanya Kroc pada donald bersaudara.

Donald bersaudara tidak mendengarkan Kroc. Mereka mengaku telah menjual franchise  di Phoenix dan Sacramento dengan harga murah, namun tidak banyak mendatangkan hasil.

KERJA SAMA WARALABA

Kroc yang telah malang melintang di dunia salesman selama 30 tahun akhirnya membujuk Donald bersaudara supaya bersedia menjalin kerjasama waralaba dengannya. Dan kali ini bujukan itu berhasil.

Kroc diberi kesempatan membeli waralaba McDonald’s dengan harga US$ 950. Sebagai konpensasinya, ia mendapat 1,4% dari hasil penjualan. Imbalan ini sebenarnya sangat minim, tetapi diterima juga oleh Kroc dengan berbagai pertimbangan.

Pada tanggal 15 April 1955 Kroc mulai membangun rantai restoran pertama di Des Plaines, Illinois. Standarisasi mutu mulai ia terapkan. Kepingan daging sapi gilingnya harus mempunyai lemak 19%, berat 1,6 ons dan garis tengah 3,875 inci. Standar ini tidak dapat diubah-ubah.

Raymond Kroc menyadari bahwa pada waktu itu sudah banyak kompetitor bisnis sejenis yang lebih dulu eksis di pasaran, seperti A & W, Dairy Queen, Tastee-reez dan Burger King. Tetapi di mata Kroc, mereka bukanlah franchisor yang baik karena pandai memeras franchisee-nya.

Ia tidak ingin menggunakan aji mumpung itu. “saya harus membantu setiap franchise berhasil dengan setiap cara yang saya ambil. Keberhasilannya akan menentukan keberhasilan saya,” prinsipnya.

Tiga tahun kemudian, Kroc akhirnya berhasil menjual 79 franchise, sebagian besar kepada teman-teman golf-nya di Golf Rolling Green. tetapi karena bagi hasil yang kurang menguntungkannya, usaha Kroc akhirnya terancam bangkrut.

Sampai akhirnya pada tahun 1961, ia memutuskan meminjam uang sebanyak US$ 2,7 juta untuk membeli seluruh kepemilikan McDonalds. Pinjaman tersebut di lunasinya dengan cara mencicil tiap bulan  dari hasil penjualan McDonald’s sebesar 1 %.

Dan keberaniannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar itulah yang akhirnya membuat Kroc dikenang sampai hari ini. Ia tidak hanya mampu mengantarkan McDonald’s go-international, tetapi juga menjadikannya sebagai simbol budaya bangsa Amerika.

Sumber refernsi: Artikel yang ditulis oleh Paulus S. Fajar pada Tabloid Bisnis Uang.

Maraknya bisnis makanan khas daerah mendorong Aris Munandar untuk membuka usaha serupa dengan menjual makanan khas dari kota Kudus, tempat ia berasal. Bagiamana tingkat keuntungan usaha ini dan bagaimana cara ia menjalankannya?

Akhir-akhir ini, menu masakan khas daerah semakin banyak bermunculan dimana-mana baik di rumah makan, restoran bahkan sampai kaki lima yang seakan berlumba “back to nature“. Salah satu contohnya yakni soto. Dimana, jenis maupun rasa soto ternyata telah berkembang banyak sekali yang sesuai dengan lidah beberapa etnik di Indonesia. Seperti: Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Betawi, Coto Makassar, dan lain sebagainya.

Para penggemar makanan soto ini pun banyak, dimana seringkali mereka mencari dan mendatangi kedai yang menjual makanan soto ini. Salah satu jenis soto yang diburu para penikmat makanan khas daerah adalah SOTO KUDUS KEMBANG JOYO milik Aris Munandar, yang berada di Jalan Subang, Jakarta Pusat.

Setiap hari tempat usahanya selalu ramai dikunjungi pengunjung yang ingin menikmati Soto Kudus, atau pembeli yang sekedar ingin mencicipi bagaimana rasanya. Apalagi pada jam-jam makan siang, penggemar soto kudus ini semakin bertambah, karena memang lokasi Soto Kudus Kembang Joyo ini terletak di dekat dengan komplek perkantoran sehingga banyak karyawan di sekitar lokasi tersebut yang menjadikan Soto Kudus Kembang Joyo sebagai tempat makan favorit mereka.

Bisnis soto kudus tersebut dibuka oleh Aris Munandar pada sekitar tahun 2004. Pada mulanya ia berkerjasama dengan pihak lain untuk membuka soto kudus dengan sistem bagi hasil 50 : 50. Modal awal dari Aris sebesar Rp 10 juta untuk membeli berbagai peralatan, sementara mitranya bertanggung jawab menyiapkan dana untuk tempat.

Setelah sekian lama dan usaha mereka cukup maju, akhirnya Aris Munandar membuka usaha sendiri di sebuah food Court dengan sistem bagi hasil 20% untuk pengelola ruko dan 80% untuk Aris dari hasil kotor.

Setelah itu Aris menempati sebuah ruko dengan ukuran sekitar 3 x 7 meter dengan sewa Rp 3 juta per bulan. Untuk memulai usaha, Aris mengeluarkan modal sekitar Rp 15 juta untuk membeli meja, kursi, peralatan dapur, kulkas, angring (sejenis pikulan tempat soto khas Kudus, Jawa Tengah) serta bahan baku.

Menurut Aris, ia belum pernah berhubungan dengan bank karena modal awalnya berasal dari tabungannya pada waktu bekerja dulu dan juga ada sedikit pinjaman dari saudaranya yang menurutnya lebih aman jika dibandingkan dengan meminjam dari bank jika usahanya sepi dan menghadapi resiko gagal bayar cicilan bank tiap bulannya.

STANDARISASI RASA

Lebih lanjut Aris mengatakan, untuk membuka usaha ini pada mulanya tidak bisa dipelajari secara langsung, tetapi harus belajar setahap demi setahap, dan apa yang dipelajari tidak hanya seputar pada resep dan bumbu, tetapi juga pada bagaimana melayani pelanggan. “Pada waktu itu setelah tamat sekolah saya ikut adik sepupu untuk belajar soto kudus ini. Setelah berjalan 4 tahun dan saya merasa modal saya sudah cukup akhirnya saya membuka usaha sendiri“, kenang Aris.

Walau usahanya masih kecil-kecilan, menurut Aris, sotonya sudah memiliki standarisasi rasa supaya konsumennya dapat menikmati rasa yang sama saat datang kembali. Dan rupanya standarisasi rasa ini berdampak positif bigi bisnisnya, karena semakin hari pelanggannya semakin bertambah banyak.

Menurut Aris, bahwa dalam berbisnis makanan sebenarnya tidak ada trik khusus, yang perlu diperhatikan hanya seperti mempertahankan kualitas rasa, menjaga kebesihan, memberikan service yang terbaik dan mematok harga yang tidak kemahalan. Selain itu juga harus diperhatikan suasana kerja yang menyenangkan. Karena jika suasana kerja sudah tidak kondusif, akan mempengaruhi bisnis secara keseluruhan.

Untuk penyediaan bahan baku sotonya, Aris tidak pernah menyimpan stok dirumahnya, jadi setiap hari ia rutin belanja kepasar tradisional Senen, Jakarta Pusat untuk membeli bahan baku. Hal ini dikarenakan untuk menjaga kualitas sotonya supaya tetap fresh karena menggunakan bahan-bahan yang masih segar dan baru. Jika bahan sotonya ternyata ada yang tidak laku pada hari tersebut, tidak akan dipakai untuk bahan pada hari berikutnya. Bahan-bahan itu dapat dibuang atau dimanfaaatkan untuk keperluan lainnya.

Rata-rata dalam 1 hari ia berbelanja bahan baku sebanyak sekitar Rp 300.000 untuk membeli bahan-bahan seperti: ayam kampung, tauge, daun seledri, daun bawang, bawang merah, bawang putih,  bawang goreng, kemiri, jahe, daun salam, lengkuas/ laos, bumbu penyedap, jeruk nipis, garam dan merica. Sedangkan untuk omzet kotor berkisar sekitar satu jutaan per harinya.

Untuk operasional kerja usahanya sehari-hari, Aris dibantu istrinya sendiri sebagai kasir serta 4 orang karyawan dengan gaji sekitar Rp 750.000 bersih. Karena Karyawannya tidak perlu kost, dan tempat tinggal sudah disediakan Aris, termasuk untuk makan sehari-hari karyawannya. Itulah mengapa gaji yang diterima oleh para karyawannya disebut gaji bersih.

Adapun karyawanya di ambil dari kalangan keluarga sendiri dengan alasan supaya selalu dapat “dipegang” alias terpantau. Alasan lain adalah supaya kerabat yang bekerja padanya dapat pelan-pelan belajar, dan dapat membuka usaha sejenis seperti ini di masa yang akan datang.

CARA MEMBUAT SOTO KUDUS KEMBANG JOYO ala ARIS MUNANDAR

BAHAN-BAHAN:

  • 1 ekor ayam kampung
  • 100 gram tauge, akarnya dibuang dan dicuci bersih
  • 2 batang daun seledri, diiris halus
  • 2 batang daun bawang, diiris halus
  • 5 butir bawang merah
  • 10 siung bawang putih
  • 50 gram bawang goreng
  • 5 butir kemiri
  • 4 cm jahe
  • 2 lembar daun salam
  • 4 cm lengkuas/ laos, dimemarkan
  • 1 sdt bumbu penyedap
  • 1 jeruk nipis, diambil airnya
  • garam dan merica secukupnya.

CARA MEMBUAT :

  • Siapkan air dalam panci besar. Masukkan ayam kampung, daun salam dan lengkuas didalam panci, rebus sampai matang dan empuk.
  • Angkat ayam yang sudah empuk, tiriskan. Suwir-suwir daging ayam, sisihkan.
  • Pisahkan kaldu ayam sebanyak 2 liter, jika kurang, tabahkan air matang.
  • Cincang kasar bawang merah dan putih. Kemiri dihaluskan, Jahe dimemarkan, lalu bakar sebentar.
  • Panaskan 2 sendok makan minyak lalu tumis bawang merah, bawang putih, kemiri dan jahe sampai harum. Masukkan tumisan bumbu ke dalam kaldu ayam yang suah dipisahkan.Tambahkan bumbu penyedap, garamdanmerica secukupnya dan didihkan diatas api sedang. Setelah mendidih lalu diangkat.

CARA MENGHIDANGKAN :

  • Siapkan mangkuk cekung, masukkan daging ayam, tauge, bawang merah, daun bawang, daun seledri dan perasan jeruk nipis.
  • Terakhir, tuangkan kaldunya.
  • Hidangkan selagi panas dengan sambal kecapnya.

Info lebih lanjut dapat menghubungi:

Aris Munandar. Soto Kudus Ayam Kampung Kembang Joyo. Jalan Sabang No 20 D, Jakarta Pusat. Hp: 081511313020.

Sumber referensi: Artikel pada tabloid Peluang Usaha.

Salah satu strategi bisnis yang patut untuk dipertimbangkan untuk meningkatkan penjualan produk anda adalah dengan berjualan secara diam-diam atau “berjualan tanpa terlihat berjualan“. Bingung? ya, inti dari strategi bisnis ini adalah jangan sampai konsumen mendapat kesan “vulgar” bahwa anda sedang menjual suatu produk. Dengan demikian, konsumen akan melakukan pembelian secara sukarela.

Biasanya ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Misalnya pada bisnis offline, anda dapat menggelar acara amal. Pada acara tersebut, seluruh sumbangan akan diberikan pada korban bencana atau orang yang membutuhkan. Dan karenanya, jangan biarkan donatur anda menyumbangkan uang anda secara cuma-cuma. Berikan imbalan dari produk-produk yang anda miliki kepada mereka. Dengan melakukan hal tersebut, keuntungan yang anda dapakan bukanlah pada “materi” berupa uang, tetapi popularitas produk, dimana produk-produk anda semakin dikenal dan brand awareness produk anda semakin melekat di benak pelanggan.

Para konsumen akan merasa senang karena mereka dapat memberikan sumbangan dan mendapatkan produk gratis. Sebenarnya tidak, hanya mereka yang menyumbang saja yang mendapatkan produk gratis tersebut. Popularitas yang anda dapatkan nilainya akan jauh melebihi jumlah nominal uang yang dibayarkan. Makin lama produk anda makin dikenal dan semakin banyak orang yang ingin mencoba untuk membeli.

Dan, cara ini cukup efektif, bahkan mungkin keefektifannya jauh dari pada aktivitas memasang iklan tiap hari. Contoh lainnya adalah dengan mengadakan kompetisi. Contohnya kontes kencantikan atau modeling. Atau anda dapat bekerja sama dengan agency pencari bakat, baik penyanyi atau calon bintang iklan dan sinetron. Anda sebagai sponsornya dan mereka pelaksana kegiatannya.

Undang para gadis untuk mengikuti kontes. Undang juga para wartawan dari media massa dan lakukan promosi acara ke masyarakat luas. Biasanya untuk acara seperti itu akan menyedot perhatian publik. Gadis-gadis cantik akan berbondong-bondong datang dan mengikuti kegiatan kontes. Dan para pendukung masing-masing peserta atau pengunjung lainnya akan berdatangan sehingga menimbulkan kerumunan massa.

Pastikan bannner produk anda dalam ukuran besar terpajang di belakang panggung. Selain itu, anda dapat membuka stand dengan gratis (karena anda sendiri penyelenggaranya), dan menjual produk-produk yang anda miliki kepada para pengunjung. Untuk menambah income, beberapa stand bisa di sewakan kepada pihak lain yang berkepentingan. Setiap peserta kontes di tarik biaya pendaftaran, dan sebagai imbalannya berikan sampel produk anda kepada mereka dalam bentuk paket. Tentu mereka akan senang dan brand produk anda tidak akan mudah terlupa dari memory mereka.

Untuk bisnis online atau bisnis internet, dimana pada akhir-akhir ini bisnis internet semakin marak seiring dengan banyaknya pendatang baru (newbie), anda dapat memberikan seminar bisnis internet. Misalnya, cara menghasilkan uang melalui media internet. Undang para pakar di bidang ini dan anda hanya dalang dibalik layar semata. Tak perlu diketahui khalayak bahwa acara ini berasal dari ide anda. Pada acara tersebut, anda dapat memajang produk anda yang berkaitan dengan bisnis online. Kemungkinan besar mereka akan membeli produk anda, karena mereka ingin mempraktekkan materi yang telah mereka dapatkan dari para pembicara. Dan bahkan, para pesarta seminar akan menyebarluaskan bahwa: “Ternyata kita bisa menghasilkan uang melalui media internet, internet adalah bisnis masa depan dan ayo kita berbondong-bondong belajar bisnis internet“.

Untuk mendukung penjualan anda, mendongkrak omzet dan mempupulerkan produk anda, sebaiknya anda membuat sebuah blog khusus. Pada blog tersebut, anda dapat menuliskan artikel-artikel yang dapat membantu calon konsumen mengenal lebih jauh produk yang anda jual dan semakin yakin dengannya. Dan tujukan juga bagi konsumen yang telah membeli, dimana di blog ini juga ada artikel yang dapat membantu konsumen memecahkan masalah yang mereka hadapi berkenaan dengan produk yang telah dibeli, atau berikan support melalui form koemtar. Calon konsumen yang melihat adanya suport yang baik dari anda akan semakin yakin dan akhirnya melakukan pembelian.

Dibandingkan dengan berjualan secara terang-terangan, berjualan dengan diam-diam lebih efektif memikat hati pembeli. Mengapa demikian? karena orang cenderung “antipati” jika langsung ditodong untuk membeli sesuatu. Misalnya saat anda didatangi salesman. Jadi, untuk mensiasati phisikologis pembeli, anda perlu melakukan cara-cara cerdas. Bagaimana caranya untuk menciptakan peluang dan mendatangkan pelanggan, dan lakukan penjualan secara diam-diam.

Adapun cara-cara yang diterangkan diatas bukanlah cara yang berfokus pada penjualan anda, tetapi pada konsumen anda. Dan yang paling menarik daripada cara berjualan dengan diam-diam ini, adalah kita tidak egois mementingkan kepentingan sendiri. Kita tidak hanya berfikir bagaimana menghasilkan keuntungan sendiri, tetapi hal utama adalah membantu orang lain. anda tidak sibuk menghitung apa yang anda dapatkan, tetapi apa yang anda berikan. Ya, berikan pa yang orang lain butuhkan. Disitulah letak seni dalam bisnis, yakni memberikan apa yang mereka inginkan.

Dalam hal berjualan dengan diam-diam ini, intinya adalah mendahulukan kepentingan orang lain. kepentiangan anda untuk berjualan letakkan pada bagian akhir. Fokuslah pada tujuan utama yakni membantu orang lain. Dan apa yang anda peroleh nantinya hanyalah “cipratan” dari aktivitas anda membantu orang lain tadi.

Demikianlah intinya! jangan pikirkan berapa banyak yang anda dapat, tetapi berikan dahulu yang teraik pada konsumen anda. Itu dahaulu yang perlu di suarakan dalam diri kita. Dan yakinlah, tidak ada yang percuma didunia ini, dan tidak ada yang sia-sia. Apalagi membantu orang lain, yang sudah seharusnya kita lakukan …

Salam aksi !

Sumber Referensi: Artikel pada blog Pak Joko Susiolo, owner Sistem Mesin Uang Otomatis.

Panduan menghasilkan uang melalui internet

Bagi sebuah perusahaan, laba adalah komponen yang sangat penting. Nilai (angka) laba bersih per lembar atau Earnings Per Share (EPS) selalu diperhatikan oleh para investor dan analis saham. Contohnya Manusia terkaya sejagad, Mr Warren Buffet, menyukai saham yang EPS-nya bertumbuh secara konsisten. Karena saham yang EPS-nya bertumbuh secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan dikelola dengan baik serta memiliki competitive advantage.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika manajemen memiliki insentif besar untuk “mengelola” EPS, dan salah satu cara pengelolaan EPS adalah dengan pembelian kembali saham yang beredar (share buyback). Misalnya beberapa waktu lalu, sebuah perusahaan telekomunikasi dikhabarkan akan melakukan buyback senilai Rp 3 triliun untuk meningkatkan pertumbuhan Earnings Per Share -nya. Pertanyaanya, apakah langkah pembelian kembali saham ini (buyback) selalu berimplikasi mendongkrak nilai EPS? dan bagi si pemegang saham, apakah dampak dari earnings management melalui tindakan buyback ini?.

BUYBACK & EPS

Para pakar ekonomi dan finansial memberikan beberapa teori yang menjelaskan motivasi dari tindakan buyback ini. Beberapa tujuan dari langkah buyback diantaranya adalah memberikan sinyal ke pasar bahwa harga saham undervalued, mengubah struktur modal serta mengurangi free cash flow yang dapat disalahgunakan oleh manajemen. Namun, dalam prakteknya, motif yang sering diajukan manajemen saat melakukan buyback adalah untuk mendongkrak EPS (Brav, dkk., 2003).

EPS atau Earning Per share merupakan angka yang menunjukkan laba bersih perusahaan yang diterima setiap saham. Ada 2 cara yang paling umum untuk menghitung EPS, yakni: basic EPS dan fully diluted EPS. Untuk teknik basic EPS, di pakai jika perusahaan hanya mempunyai saham biasa. Sedangkan teknik fully diluted EPS digunakan jika perusahaan mamakai instrumen pendanaan yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa. Contohnya obligasi konversi, opsi saham dan waran.

Basic EPS merupakan laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dibagi jumlah saham biasa yang beredar. Laba bersih dihasilkan selama periode fiskal, misalnya satu tahun, namun jumlah saham yang beredar pada periode tersebut akan fluktuatif jika perusahaan menerbitkan saham beberapa kali atau melakukan langkah buyback. Oleh karenanya, jumlah saham yang beredar harus dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang (time-weighted average share outstanding). Tambahan tersebut berkisar dari angka satu untuk periode awal dan nol untuk akhir periode.

Sebagai contoh: Emiten A memperoleh laba bersih sebesar Rp 125 miliar sepanjang tahun 2008, mempunyai 100 juta lembar saham diawal tahun 2008 dan menerbitkan 50 juta lembar saham baru pada tangal 30 Juni 2008. Rata-rata tertimbang saham beredar selama tahun 2008 adalah 125 juta [ dari (100 juta x 1) + (50 juta x 0.5)]. EPS tahun 2008 adalah sebesar Rp 1.000 (dari Rp 125 miliar dibagi 125 juta). Untuk perhitungan fully diluted EPS lebih rumit karena mengasumsikan bahwa instrumen konversi telah ditukar menjadi saham biasa.

Buyback mempengaruhi nilai EPS, baik melalui labar bersih atau jumlah saham beredar. Dampak buyback pada jumlah saham beredar tergantung timing buyback-nya. Misalnya saat emiten A melakukan buyback 10 juta saham pada awal periode, maka saham yang beredar pada periode tersebut akan berkurang sebanyak 10 juta saham. Jika tindakan buyback dilakukan pada pertengahan periode, maka langkah ini hanya akan mengurangi saham beredar sebanyak 5 juta lembar.

Tindakan buyback yang mengurangi jumlah saham beredar tidak secara otomatis menurunkan EPS, karena buybuck juga mempengaruhi laba bersih. Perlu diingat bahwa tindakan buyback memerlukan dana tunai yang berasal dari internal perusahaan atau utang baru. Laba bersih akan berkurang sejumlah imbal hasil (return) yang semestinya dihasilkan oleh kas yang digunakan untuk buyback atau berkurang sejumlah bunga utang.

Menurut Hribar, dkk (2003), buyback hanya akan menaikkan EPS jika return yang hilang atau pembayaran bunga lebih kecil dari earning-to-price ratio (yakni, EPS dibagi harga saham) saat buyback dilakukan. Karena itu, harga buyback yang terlalu tinggi akan mengecilkan earning-to-price ratio sehingga EPS justru turun dengan adanya buyback.

Dan jika buyback dilakukan mendekati akhir periode fiskal atau jika return yang hilang adalah return yang baru bisa dinikmati pada periode yang akan datang, dampak buyback terhadap laba bersih sangat kecil. Dengan dmeikian, EPS tahun ini akan meningkat akibat berkurangnya saham beredar. Dampak penuh dari buyback ini baru akan terasa pada periode-periode fiskal berikutnya.

EPS tidak selalu naik

Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa langkah buyback tidak selalu berimplikasi menaikan nilai EPS. Penelitian Hribar, dkk (2003) terhadap sampel 23.704 kasus buyback di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hanya 11% kasus buyback yang berhasil meningkatkan EPS secara nyata. Seandainya-pun EPS berhasil dinaikkan, dampak dari return yang hilang–karena berkurangnya dana untuk investasi–dapat memperburuk EPS diperiode yang akan datang.

Oleh karena itu, investor harus berhati-hati dalam menilai pencapaian BPS melalui buyback. Hribar menemukan bahwa reward berupa price premium bagi perusahaan yang melampaui target BPS-nya dengan menggunakan buyback adalah 60% lebih rendah dibandingkan dengan tidak menggunakan buyback.

Aksi manajemen perusahaan “mengelola” laba dapat merugikan pemegang saham. Seorang manajer terkadang memiliki wawasan yang lebih pendek dari investor. Karena kinerjanya dievaluasi setiap tahun, manajer cenderung lebih fokus pada pencapaian target tahunan, misalnya EPS. Manajer juga sensitif terhadap menurunnya harga saham perusahan dan sedapat mungkin berusaha untuk menahannya. Buyback menawarkan solusi cepat (jangka pendek) untuk kedua hal tersebut. Tetapi, dapat saja langkah ini menjadi solusi jangka pendek dengan biaya jangka panjang.

Kas untuk buyback sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan investasi baru yang menciptakan nilai tambah. Sebuah pertanyaan, apakah si pemegang saham akan semakin makmur jika naiknya EPS tahun ini ternyata menekan kinerja perusahaan pada periode yang akan datang? Michael Porter mengingatkan supaya manajer menghindari myopicbehavior , yaitu mengorbankan pertumbuhan jangka panjang demi hanya mengejar sasaran jangka pendek.

Sumber Referensi: Artikel pada Koran Kontan yang ditulis oleh Lukas Setia Atmaja, Value Creation and Corporate Governance (VCCG) Workgroup Prasetiya Mulya Business School.

Panduan menghasilkan uang melalui internet

Manusia terkaya didunia, Warren Buffet menyatakan bahwa ia saat ini sedang memborong saham-saham Amerika untuk investasi jangka panjang melalui perusahaanya hathaway Inc. Kepada new York Times, ia mengatakan mengikuti prinsip seperti ini: “Takut pada saat orang lain meraup uang dan meraup uang ketika orang lain takut“.

Menurut Buffet, pada masa yang akan datang, pasar saham akan lebih cerah, walaupun harga-harga saham masih berfluktuasi. Contohnya pergerakan harga pada pekan ini, dimana Dow Jones meroket sampai 976 poin pada hari Senin, tetapi pada keesokan harinya jatuh 76 poin dan bahkan pada hari Rabu terjun bebas 733 poin, tetapi naik kembali 401 poin pada hari Kamis. Pergerakan saham benar-benar liar dan sulit diprediksi.

Menurut Warren Buffet, ia tidak dapat memperkirakan pergerakan pasar saham untuk jangka pendek. “Saya tidak bisa melihat dengan jelas apakah saham akan naik atau turun bulan ini atau tahun ini dari sekarang. Bagaimanapun, saham akan bergerak naik. Jadi sebelum ada sentimen lainnya atau arah ekonomi meningkat segeralah membeli. Jadi, jika saya menunggu robin (jenis burung), musim semi akan lewat,” ujarnya.

Perlu diingat bahwa pada depresi Amerika pada tahun 1930, Buffet mengalami kerugian besar pada tanggal 8 Juli 1932. Pada saat itu situasi ekonomi semakin suram sampai presiden Franklin Roosevelt menjadi presiden pada bulan Maret 1933, dan pada saat yang bersamaan, pasar saham merangkak naik sampai 30%.

Berita buruk adalah teman baik investor,” ujar Buffet. “Yang membuat anda dapat membeli saham-saham Amerika yang harganya sedang murah“.

Note:

Pandangan pribadi saya: Saya punya teman, pak Harry yang juga memegang beberapa lembar saham. Saya paling saya ingat ucapannya sewaktu saya bertanya, “bagaimana strategi terbaik bermain saham? karena sekarang banyak buku ini dan itu yang mengajarkan cara bermain saham?”.

Dia menjawab: “Manusia terkaya di dunia saat ini adalah Warren Buffet, jadi ikuti petunjuk di dalam bukunya. Udah, ikuti warren buffet dan pasti sukses!“.

Kalau saya pikir-pikir jawaban pak Harry ini ada benarnya, karena Warren Buffet sudah sukses, jadi teorinya patutlah menjadi pertimbangan strategi pemain saham. Cuma kadang saya juga berfikir, apakah strategi Warren Buffet hanya cocok untuk pasar saham Amerika? apakah juga cocok diterapkan untuk pasar saham Indonesia? mengingat perbedaan tingkat pengawasan dan lain-lain.

Menurut pak Harry, (saat ini sambil nyambil sebagai pedagang Grosir pakaian), lebih baik kita benar-benar menjadi investor, bukan sekedar menjadi spekulan yang bermain saham untuk jangka pendek guna mendapatlkan gain. Bidik saham-saham blue chips, Jika harga nya sedang diobral, lakukan langkah beli. Dan lupakan selama 5 tahun, karena kemungkinan besar harga saham yang baik umumnya merangkak naik. “Dalam 5 tahun, saham-saham papan atas biasanya sudah jauh lebih tinggi daripada sewaktu pertama kali dibeli, cuma rata-rata persentasenya saya belum ada data. Soalnya saya sendiri bukan pemain saham he…he.. :)

Ada pendapat?

Sumber referensi: Artikel berita pada TempoInteraktif.Com

cara dapatkan uang 70 juta sebulan

Pertanyaan:

Bu Rizka, kami mendapat tawaran pendanaan dari sebuah lembaga pembiayaan untuk membeli mesin Es krim. Dapatkah Bu rizka jelaskan apakah ada perbedaan cara kerja lembaga pembiayaan dengan Bank umum? apa yang perlu kami perhatikan dalam pendanaan ini?

Evita, Jakarta

Jawaban:

Lembaga pembiayaan biasanya memberikan tingkat suku bunga yang lebih besar daripada bank. Karena bank mendapatkan sumber dana yang berasar dari simpanan masyarakat seperti tabungan, deposito dan lain-lain, sedangkan lembaga pembiayaan tidak mendapatkan dana dari simpanan masyarakat, tetapi dari pihak-pihak tertentu, misalnya dari obligasi atau surat hutang yang dijual kepada masyarakat.

Tentu suku bunga yang diberikan kepada calon debitur lebih tinggi daripada sukubunga atau kupon dari obligasi. Ibu perlu memperhatikan perbedaan tingkat suku bunga yang diberikan oleh Bank dan lembaga pembiayaan, serta proses pengajuan kredit kepada Bank dan lembaga pembiayaan. Selamat mencoba dan semoga sukses.

Sumber: Kolom RIZKA BAELY pada Majalah Duit! .

Rizka Baely, adalah President Director dan Chief Investment Officer dari Momentum Synergy Asset Management. Ia telah berkecimpung dalam pengelolaan keuangan dan investasi selama lebih dari 15 tahun, termasuk selama 12 tahun diantaranya sebagai Country Manager Citigroup Asset Management di Indonesia. Disclaimer: Tulisan ini adalah untuk bahan informasi saja dan bukan merupakan suatu penawaran untuk menjual atau ajakan untuk membeli instrumen investasi.

===================================================== temukan rahasia bisnis online

Hari raya lebaran baru saja berlalu. Coba sejenak kita ingat-ingat beberapa hari menjelang lebaran kemarin. Umumnya, menjelang hari raya kita mendatangi pusat perbelanjaan seperti mall dan kita melihat banyak penawaran dan diskon produk. Terkesan para produsen dan suplier berlomba-lomba memberikan harga yang semurah mungkin sehingga mengakibatkan konsumen melakukan pembelian. Kalau dipikir-pikir, dengan melakukan penurunan harga seperti diskon dll pada moment-moment tertentu apakah mereka dapat menaikkan jumlah omzet? dan bagaimana cara menentukan harga suatu produk yang pas?

Telah disebutkan didalam SMUO (SISTEM MESIN UANG OTOMATIS), jika anda seorang pebisnis internet, maka sudah menjadi suatu keharusan anda memiliki suatu produk. Dan setelah anda membuat suatu produk dan sudah pada tahap akhir peluncuran, maka hal terakhir yang akan membuat bingung adalah bagaimana menentukan harga yang ideal untuk produk tersebut. Jika harga kelewat murah, kemungkinan anda sulit menutupi biaya produksi produk tersebut atau REI-nya menjadi lebih panjang, dan jika harganya di-set terlalu mahal, maka akan membuat kita kesulitan memasarkannya karena orang akan berfikir 5 kali lipat, dan kalau harganya di patok seperti harga produk sejenis di pasaran, kemungkinan cap sebagai “pengikut” akan diberikan oleh orang lain kepada anda. Jadi bagaimana seharusnya kita menentukan harga jual produk kita?

Coba andaikan anda menjadi seorang calon pembeli. Coba pikirkan, kira-kira apa yang mereka pikirkan. pelajari kondisi psikologis mereka. Anda tidak dapat mematok harga produk anda pada nilai tertentu jika tidak berkompromi dengan calon pembeli anda.

Anda mungkin sering melihat dua barang yang memiliki kualitas hampir sama namun memiliki harga yang berbeda. Yang satu lebih mahal dan yang lain lebih murah. Kita contohkan sebuah laptop.

Merek A dijual dengan harga Rp 5.000.000 dan
merek B dijual dengan harga Rp 4.990.000

Menurut anda selaku calon pembeli, kira-kira merek mana yang akan lebih banyak dibeli konsumen?

Pada dasarnya manusia memutuskan dan bertindak berdasarkan “emosi” mereka. Setelah itu beru kemudian berfikir rasional. Contohnya, jika calon pembeli memiliki uang dibawah 5 juta untuk membeli laptop, kemungkinan besar mereka akan memilih produk bermerek B. Mengapa? karena secara psikologis mereka akan “merasa” bahwa produk B jauh lebih murah dari produk A.

Dan kebalikannya, jika mereka menaruh bandrol 5,1 juta, maka harga produk tersebut akan terlihat sangat mahal jika dibandingkan dengan kedua harga sebelumnya. Walaupun sebenarnya harga hanya terpaut sedikit. Memang demikianlah sifat psikologis manusia. Bagi pembeli, Harga yang terlihat sedikit lebih murah dan dengan kualitas yang tidak jauh berbeda merupakan tawaran menggoda yang tidak akan dilewatkan begitu saja.

Tetapi, belum tentu harga produk yang murah akan menjamin produk tersebut laris manis di pasaran, perlu diperhatikan juga hal-hal yang menentukan harga suatu produk, yakni:

1. Buatlah produk dalam bentuk “paket”

Anda dapat menaikkan harga lebih mahal untuk produk yang ditawarkan ke pasar dengan alasan yang logis. Contohnya: anda menawarkan produk yang komplit dalam satu paket. Jadi, anda tidak hanya memberikan produk utama, tetapi juga produk tambahan yang berhubungan dengan produk utama. Dengan kata lain, memberikan bonus-bonus yang bernilai dan bermanfaat. Mematok harga yang lebih mahal dari pebisnis lainnya, tetapi juga memberikan bonus tambahan yang lebih banyak dengan value yang lebih tinggi.

Contohnya, di supermarket dapat ditemukan satu paket shampoo komplit dengan produk perawatan anti ketombe dan anti rontoh dengan harga Rp 20.000. Jika produk-produk tersebut di beli secara terpisah, maka total harga adalah Rp 25.000. Nah, mana kira-kira yang akan dipilih oleh pembeli? produk dalam bentuk paket atau dibeli secara terpisah? kemungkinan besar pembeli akan memilih yang dalam bentuk paket karena lebih murah. Walaupun mereka mungkin “belum” membutuhkan produk tambahannya, namun mereka tetap memilih produk yang dalam bentuk paket tersebut. Disini, mereka memanjakan emosi mereka. Mereka akan berfikir seperti ini: “kapan lagi ketemu harga lebih murah? mungkin besok penawaran paketnya sudah habis. Jadi jangan sampai menyesal karena tidak membeli sekarang“.

Demikianlah apa yang ada didalam benak pembeli. Membeli produk yang telah dibundel dalam satu paket secara psikologis akan menimbulkan perasaan “something for nothing”. Artinya, mereka tidak merasa mengeluarkan uang lebih karena merasa tidak dirugikan dan bahkan dapat melakukan penghematan.

2. Beri Diskon

Saat ada meluncurkan sutu produk baru kepasar, berilah tawaran yang menarik bagi pengunjung dengan cara memberikan potongan harga atau diskon, misalnya khusus 100 pembeli pertama akan mendapatkan potongan harga 30%.

Pemberian diskon ini dapat dilakukan pada momen-momen khusus, misalnya pada hari-hari raya keagamaan, pada awal dan akhir tahun dan lain sebagainya. Harga diskon atau potongan harga ini dapat anda berikan khusus kepada pelanggan loyal produk anda. Misalnya, pembeli yang sudah berada dalam daftar kontak, memegang keanggotaan membership, atau konsumen yang direkrut oleh affiliate anda. Selama mereka merasa dihargai, pelanggan seperti ini akan selalu kembali kepada anda.

3. Ada harga, ada kualitas

Penting untuk diperhatikan dalam berbisnis di internet adalah jangan menjual produk kelewat mahal. Mengapa? karena anda buka hanya bersaing dengan produk yang dijual secara offline, tetapi juga terbentur dengan “kemalasan” orang berbelanja di internet, mengingat agak ribetnya transaksi. Terkecuali jika anda sudah memiliki brand produk yang sudah terkenal, jangan sekali-sekali menjual produk anda dengan harga tinggi. Cukup patok harga produk anda sesuai dengan kualitasnya. Mata pembeli lebih jeli daripada anda. Karena disini mereka adalah Raja, uang mereka yang pegang, dan mereka menerapkan semboyan terkenal: “teliti sebelum membeli“.

Salah satu kiat supaya konsumen dapat menerima harga yang anda patok adalah dengan memberikan “kesan berharga“. Artinya, produk anda harus benar-benar ekslusif. Buatlah suatu “kesan” bahwa produk yang anda jual benar-benar sangat berkualitas. Jadi wajar jika harganya mahal. Namun perlu diingat, hal tersebut dapat anda lakukan sesudah anda memiliki banyak pelanggan dan daftar prospek. Untuk produk yang pertama kali di luncurkan ke pasar, akan sangat sulit untuk memberikan kesan seperti itu.

4. Perhitungkan cost produksi

Patokan harga suatu produk pasti sudah termasuk biaya pengiriman maupun biaya perawatan. Dan bahkan, terkadang biaya packing dan kemasan juga dimasukkan kedalam harga jual produk. Jadi, jika produk yang anda jual adalah produk yang dikirim secara offline, jangan lupa memasukkan biaya kirim dan pengemasannya pada harga jual produk.

Lalu, beritahu konsumen anda bahwa biaya pengiriman dan biaya paket produk adalah gratis! dan konsumen tidak perlu menambah biaya ekstra. Beritahu mereka betapa mudah membeli produk anda. Hal tersebut akan mejadi berbeda jika anda memisahkan harga produk dan biaya kirim. Secara psikologis, pembeli akan merasa produk anda terlalu mahal. Karena total cost yang meraka keluarkan bukan hanya harga produk, tetapi juga biaya pengiriman produk tersebut.

5. Harga produk yang elastis

Pada waktu anda menaikkan harga produk dan ternyata permintaan pembelian mengalami penurunan, berarti sifat harga yang elastis melekat pada produk anda. walaupun mungkin anda hanya menaikkan harga jual produk sebesar 1%. Biasanya, harga seperti itu dipengaruhi oleh tingkat persaingan dan persepsi konsumen.

Produk terbaik adalah produk yang harganya in-elastis atau tidak elastis. Yakni, kapanpun anda menaikkan harga, pembeli tetap ramai. Yang jadi pertanyaan, produk apakah yang seperti demikian? jawabanya yakni produk memberikan manfaat bagi pembeli. Orang yang sedang memerlukan pasti membeli produk anda, walaupun harganya agak mahal, karena yang penting apa yang mereka butuhkan dapat dipenuhi oleh produk anda. Ibarat orang makanan yang sangat membutuhkan makanan siap santap.

Jadi, anda harus dapat mengkomunikasikan kepada pengunjung bahwa produk anda memiliki suatu nilai keunikan, dan pastikan pengunjung memahami nilai keunikan dan kelebihan produk anda. Sehingga, pembeli akan menganggap produk anda sangat bernilai.

Sebenarnya, dalam penentuan harga produk sangat tergantung kepada persepsi pembeli. Selaku penjual, anda harus dapat memahami: ” apa yang mereka pikirkan tentang produk anda? bagaimana pendapat mereka tentang produk anda? dan bagaimana kesan mereka terhadap produk anda?“. Cukup pahami apa yang ada didalam benak konsumen dan sesuaikan harga dengan kualitas produk.

Sumber referensi: Artikel yang di tulis oleh Joko Susilo - Owner SMUO pada blognya: www.jokosusilo.com

3 jurus ampuh hasilkan uang lewat internet

Profesi Oyo Saryo dulunya hanyalah kuli pacul (buruh tani) biasa asal Majalengka, Jawa Barat, kini berubah menjadi seorang Bos Bubur Ayam “Mang Haji OyoTea” yang saat ini memiliki 8 cabang. Bagaimana kisah sukses Mang Oyo yang bertekad mengubah nasib yang hanya dari seorang buruh tani menjadi pengusaha bubur ayam hanya dengan bekal tekad, keuletan, dan kerja keras?

Pada hari minggu itu, di Jalan surapati, Bandung, Tepatnya dilokasi tempat bubur ayam “Mang haji Oyo Tea” terlihat sepi. Kemana pengunjung gerangan? rupanya situasi sepi tersebut bukan dikarenakan buburnya tidak laku, tetapi ternyata sudah ludes dilahap pelanggan. Hari itu, terjual habis 160 porsi. Kasir sedang menghitung hasil penjualan, sementara para pegawai sedang membereskan kursi dan meja, dan si pemilik usaha bubur tersebut, Oyo saryo, mengaso.

Pembeli rela antri untuk membeli makanan berlabel “Bubur Ayam Mang Haji (MH) Oyo Tea” tersebut. Mang Oyo, demikian ia biasa disapa, sudah berjualan bubur ayam sejak tahun 1976.

Kisah sukses Oyo Saryo merupakan gambaran kegigihan rakyat kecil yang menggeluti usaha yang nyaris hanya dengan modal dengkul, dan tekad kuat untuk mengubah nasib. Oyo adalah seorang anak petani miskin dari desa Salawangi, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. Sewaktu ia masih kecil, ia terbiasa hidup dengan menggembalakan sapi atau kerbau untuk membiayai sekolah. Di pagi hari ia bersekolah, sedangkan di siang sampai sore hari ia menggembala ternak.

Setelah dewasa, karena kesulitan mencari pekerjaan, Oyo menjadi buruh tani atau kuli pacul dikampungnya. Namun, karena desakan kebutuhan hidup dan keinginan mencapai taraf hidup yang lebih baik, membuat Oyo akhirnya mengambil keputusan untuk merantau. Sedikit modal dari hasil bertani yang dapat dikumpulkannya, dijadikan bekal untuk merantau ke kota Bandung pada tahun 1964.

Di Bandung, ia pernah melamar ke pabrik daging, tetapi tidak diterima. Apa mau dikata, karena walaupun Oyo lulusan Sekolah Rakyat, tetapi ijazahnya telah hangus terbakar bersama rumahnya yang terbakar pada tahun 1958.

Kemudian Oyo mencoba peruntungan dengan berjualan minyak tanah keliling. Namun, setelah 3 bulan, ia merasa tidak sreg dengan pekerjaannya ini dan merasa berat membawa minyak tanah. Lalu ia beralih profesi lagi dengan berjualan keliling bubur lemu dan pacar cina dengan memakai pikulan.

Profesi penjual bubur lemu ia jalani dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1976, dan hidupnya masih biasa-biasa saja. Hasil yang ia dapat sehari-hari pun masih pas-pasan. Karena pembeli bubur lemu dan pacar kebanyakan hanya terbatas pada anak-anak.

Memasyarakatkan Olahraga

Suatu waktu Oyo terinspirasi dengan maraknya slogan pemerintah waktu itu, yakni ” Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat“. Lalu ia berfikir, “Bila warga selesai berolahraga, pasti mereka mencari santapan“, dan muncullah ide bisnis untuk berjualan bubur ayam.

Mengapa memilih berjualan bubur ayam? pertimbangannya bubur ayam disukai dan dapat dinikmati oleh segala kalangan, dari anak-anak sampai orang tua. Pada awal Oyo membuka usaha bubur ayam, menu bubur ayam yang disajikannya masih sangat sederhana. Bubur encer polos dengan taburan seledri, kacang dan kerupuk. Tetapi makin lama dan atas saran pelanggan, ia menambahkan lauk irisan daging ayam, cakue dan lain-lain.

Pertama-tama ia berjualan bubur ayam di lingkungan kantor dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa barat di kota Bandung. Selanjutnya, disebabkan oleh dinamika dan tanggapan warga sekitar, Oyo berpindah pindah lokasi usahanya. Pelanggan yang bertambah banyak memaksa ia untuk mencari tempat usaha yang lebih representatif, yaitu di Jalan Panatayuda.

Di tempat baru ini, oyo kembali menghadapi situasi dilematis. Ternyata bubur ayamnya sangat laris manis tetapi dipersoalkan oleh warga sekitar. Kendaraan pembeli yang parkir memenuhi sebagian besar area membuat warga lain protes. Pada tahun 2004, Oyo kembali membuka usaha di tempat yang baru, yakni di Jalan Sulanjana. Dan cabang pertama bubur ayamnya di lingkungan Universitas Islam Bandung tidak luput dari situasi serupa. Dan akhirnya Oyo harus pindah ke Jalan Gelapnyawang.

Walau mengalami pengalaman terpaksa berpindah-pindah lokasi, namun karena bubur ayamnya memang pas di lidah pembeli, usahanya makin lama makin berkembang. saat ini ia memiliki 7 cabang di kota Bandung, yaitu: di Jalan Gelapnyawang, Jalan Sulanjana, Jalan Ir Soetami, Jalan Surapati, Jalan burangrang, semuanya berada di kota Bandung serta kota baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat.

Pada semua cabang usahanya, dibuka sekitar pukul 06.00 dan tutup sekitar pukul 13.00, terkecuali untuk yang di Jalan Sulanjana dan Jalan Ir Soetami yang dibuka sampai dengan pukul 20.00 malam. Dan di luar Jawa Barat, ia memiliki 1 cabang yang berada di Yogyakarta.

Oyo juga sudah memahami betul arti “nama” dan profesionalisme, oleh karenanya Ia mendaftarkan “Bubur Ayam MH Oyo Tea” kepada Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual dan Departemen Kesehatan. Selain itu, ia juga sudah mendapatkan pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia berupa setifikat halal.

Untuk kata “Tea” artinya semacam penegasan dalam bahasa Sunda. Kata “Tea” yang melekat dibelakang nama Oyo dijadikan label produk asli buatan Oyo. Bahkan ada pedagang sejenis yang mengatasnamakan dirinya. “Pokoknya, selain selain lokasi-lokasi yang sudah saya sebutkan tadi, itu Bubur Ayam MH Oyo Tea ASPAL (asli tapi palsu),”ujarnya. Oyo memberi nama yang unik untuk menunya, APEL (hati-ampela), ACAK (ayam-cakue) dan ATEL (ayam telur). Harga bubur ATEL dijual Rp 7.500 per porsi dan ACAK Rp 6.000 dan bubur komplet Rp. 10.000.

Ayo Berwirausaha

Dari hasilnya berjualan bubur ayam, Oyo dapat membangun rumah untuk dia dan keluarga bernaung. Bahkan ia sudah mampu menunaikan ibadah haji. Selain itu, Oyo juga sudah memiliki kebun seluas 3.500 meter persegi yang diisi berbagai pohon, seperti mangga, durian, kelapa, sukun dan pete. Ada juga dua mobil dan tiga sepeda motor sebagai kendaraan operasional sehari-hari.

Walaupun berasal dari kampung, Oyo menghimbau agar masyarakat desa jangan tergiur untuk pindah kekota besar. Saat ini bukan lagi masanya ber-urbanisasi. “Lebih baik berwiraswasta dan membuka lapangan kerja di daerah,” ujarnya.

Dalam pekerjaan sehari-hari, ia selalu menyertakan doa dan keyakinan kepada Tuhan. Selain itu harus alus dan pinter, ujarnya lagi dalam bahasa Sunda. Alus berarti cakap atau terampil dan Pinter artinya pintar dalam mengambil keputusan serta meraih peluang usaha yang ada. Dan ditambah dengan satu syarat lagi, yakni kreatif membuat Inovasi untuk menarik Konsumen. Semua prinsipnya tersebut membentuk kata APIK.

Rahasia Oyo dalam berbisnis adalah rela berbagi dengan sesama, tidak pelit, rajin dan sabar, tidak mengeluh saat menghadapi kesulitan dan jangan sampai membuat konsumen kecewa, baik pada poin layanan maupun produk yang dijual. Oyo sendiri mengaku cerewet dan selalu ingin tahu keinginan pelanggannya. Ia juga sering menyelingi pelayanannya dengan humor. Seperti yang ia ucapakan pada saat konsumennya selesai menyantap bubur dan beranjak pergi:

“Terima kasih …
Semoga Tuhan balas kasih,
Jangan lupa datang lagi,
Besok lusa bawa kekasih …”

Sumber referensi: Artikel yang ditulis oleh Dwi Bayu Radius pada koran Kompas.

Panduan menghasilkan uang melalui internet

Lihatlah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Pontianak dan sebagainya, hampir di semua sudut, baik di gang yang sempit, diatas trotoar, dihalaman parkir di berbagai gedung dan bahkan di mal di penuhi oleh berbagai makanan yang siap disantap. Untuk kota Metropolitan, Jakarta, bukan hanya makanan khas Betawi saja yang di jajakan, tetapi juga makanan khas dari daerah lain, seperti makanan khas Sulsel, Aceh atau masakan Manado. Bila di jumlahkan, mungkin ada ribuan jenis makanan daerah yang di jajakan di kota Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Jika anda jeli, makanan khas daerah merupakan suatu peluang bisnis alias peluang usaha yang cukup menggiurkan untuk di garap pengusaha.

Dan yang mencengangkan, hampir semua jenis makanan daerah yang di tawarkan oleh pedagang makanan selalu mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan berkembang semakin besar. Dengan antusiasnya masyarakat terhadap makanan khas daerah Indonesia, tidak heran jika bisnis makanan khas daerah sangat menggiurkan, bahkan bisa mencapai keuntungan sampai 50% untuk pedagang yang menjual beberapa makanan seperti Soto atau Bubur ayam.

Coba sebut jenis makanan apa yang tidak ada dijual di Jakarta? hampir semua makanan yang berasal dari daerah dari seluruh Indonesia ada dijual di Ibukota. Dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa, Jakarta dapat diibaratkan “surga” bagi pedagang makanan khas daerah, karena memang pada umumnya komposisi penduduk Jakarta terdiri dari 80-90% adalah pendatang.

Potensi bisnis makanan yang terbuka di kota Jakarta, juga terbuka di kota-kota lainnya. Hal ini terjadi, karena hampir semua kota-kota besar di Indonesia dipenuhi oleh masyarakat pendatang. Contohnya saja kota Pekanbaru, Riau, di kota tersebut penduduknya bukan hanya terdiri dari orang Melayu yang gemar menyantap masakan Padang atau Melayu, tetapi juga berbagai masakan daerah lain, karena heterogennya mayarakat yang mendiami kota tersebut.

Maka jangan heran jika masakan khas Jawa seperti Gudeg atau khas sunda termasuk bakso Solo atau Rawon Jawa selalu di kerumuni oleh pengunjung. Hal demikian juga terjadi di daerah-daerah atau kota-kota besar di kalimantan, Sulawesi dan lain sebagainya.

Untuk kota-kota di pulau Jawa, meski Yogyakarta dikenal dengan Gudeg sebagai makanan khasnya, ternyata makanan-makanan khas dari daerah lain juga ikut memenuhi hampir disetiap sudut kota tersebut. Kota Yogyakarta tidak lagi di dimonasi oleh penjaja Gudeg, tetapi juga oleh pedagang makanan dari daerah lain yang memiliki cita rasa yang khas dan berbeda. Dan hal tersebut juga dialami oleh kota Bandung, semarang, Surabaya dan lain sebagainya.

Pendek kata, makanan khas daerah saat ini sudah Go National alias sudah lintas daerah, dan sudah bisa diterima oleh lidah konsumen dari suku mana saja. Buktinya, Sroto Eling-Eling Banyumas yang terletak di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan,selalu diserbu oleh pembeli. Tidak hanya didatangi oleh orang Banyumas saja, melainkan juga didatangi oleh orang manado atau orang padang yang ternyata juga menyukai Sroto.

Hal yang sama juga terlihat di Jalan alternatif Cibubur, dimana konsumen mengantri untuk membeli Pisang Goreng Pontia (Pisang Goreng Khas Pontianak, Kalimantan barat/ West Borneo). Para konsumen yang membeli bukan hanya orang Dayak atau orang Kal-Bar, tetapi banyak dari suku-suku lainnya.

Demikian juga dengan “Sup Conro Haji Maming” yang terletak di Jalan Casablanca, orang yang berjubel untuk membeli bukan hanya orang Makassar atau Sulawesi, tetapi juga dibeli oleh orang dari suku-suku lain di Indonesia.

Tidak hanya di Kota Jakarta, jika anda jalan-jalan ke kota Cirebon dan singgah di “Nasi Jamblang Mang Dul” yang berada didepan Matahari dept, maka pembelinya bukan hanya orang Cirebon, tetapi juga para pelintas batas yang sedang melewati kota Cirebon.

Juga bila anda jalan-jalan ke Indramayu, tepatnya di Jalan menuju Bolongan, disana dijual Ikan bakar Mutiara yang sangat lezat yang dinikmati bukan hanya oleh orang dari suku Sunda, bahkan menurut si pemiliknya sekitar 90% konsumennya adalah masyarakat dari luar Indramayu.

Lezat dan nikmatnya masakan khas daerah karena selalu mengandalkan bumbu alami, tak hanya semakin disukai oleh orang Indonesia, tetapi juga diminati oleh para turis dari mancanegara. Lihatlah ke Pulau Bali, maka akan terlihat banyaknya para turis yang sedang menikmati lezatnya makanan khas daerah di berbagai warung kaki lima yang bermunculan pada malam hari di kota Denpasar.

Antusiasnya konsumen terhadap makanan khas daerah merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup menjanjikan untuk digarap. Namun demikian, bagi anda yang ingin terjun ke bisnis makanan, khususnya makanan khas daerah, perlu dipertimbangkan untuk memilih tempat yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang berasal sama dengan makanan tersebut, karena pada masa-masa awal dibukanya suatu usaha, orang-orang inilah yang pertama-tama dijadikan target konsumen. Setelah beberapa lama, maka akan ada promosi MLM (mulut ke mulut) tentang makanan khas daerah yang anda jual. Sehingga pembeli makanan yang anda jual bukan dari satu suku saja, tetapi dari beragam suku.

Sumber Referensi: Artikel pada Tabloid Peluang Usaha

Artikel yang berkaitan bisa di lihat pada tag ” bisnis makanan” pada sidebar

Judul diatas merupakan pertanyaan yang ada didalam benak saya sejak lama. Yakni, mengapa naik atau turunnya harga dollar bisa merugikan pelaku bisnis? bukankah yang untung atau rugi disini adalah mereka yang mencoba mendapatkan gain dari pergerakan nilai tukar mata uang saja (spekulan) ? mengapa pula naik dan turunnya nilai tukar mata uang asing dapat merugikan pelaku bisnis lainnya? demikian beberapa hal yang kadang muncul dalam pikiran saya.

Apalagi saat ini nilai tukar dollar semakin menguat terhadap rupiah akibat krisis finanasial di Amerika Serikat yang menjalar ke Eropa dan akhirnya menulari pasar modal di Indonesia. Dan seperti kita ketahui saat ini, aktivitas pasar modal di Bursa Efek sedang disuspend oleh pemerintah sebagai antisipasi terhadap kepanikan pasar yang terus berlanjut. Semoga saja kondisi pasar modal kita dan Amerika + Eropa + Asia kembali pulih dalam waktu cepat.

Sebagai akibat dari krisis ekonomi global ini, Menurut beberapa pengamat nilai tukar dollar terhadap rupiah bisa menembus 10.000 atau bahkan 11.000.Dengan pergerakan nilai tukar yang sedemikian tajam ini, akan mendorong pelaku bisnis mata uang untuk memburu dollar Amerika alias menimbun USD, sehingga mengakibatkan nilai rupiah semakin terkoreksi terhadap dollar Amerika.

Beberapa waktu lalu, saya pernah iseng-iseng bertanya kepada seorang teman saya, yakni pak Handoko Tio, kebetulan beliau salah satu pebisnis pakaian di daerah mangga dua dan pernah maen di lantai bursa. “Kira-kira mengapa naik turunnya dollar Amerika bisa merugikan pebisnis pak?” tanya saya.

Kemudian pak Handoko Tio menjawab, dan dapat saya simpulkan sebagai berikut. Adapun contoh adalah ilustrasi dari saya. Begini: Biasanya, jika nilai USD menguat terhadap rupiah, akan memukul importir, karena pendapatan importir dalam rupiah dan harus membayar utang di dalam dollar. Makanya pelaku bisnis, khususnya importir, yang sangat di idamkan adalah nilai tukar mata uang yang stabil, walau nilai tukarnya tinggi tidak masalah, misalnya USD 1 = Rp 12.000 atau 13.000, yang penting nilainya stabil.

Jika nilai tukar USD menguat tajam terhadap rupiah, hal ini akan membuat importir ketar-ketir, dan sebaliknya jika nilai USD melemah tajam terhadap rupiah, ini justru menjengkelkan eksportir. Sebagaimana lazimnya dalam dunia bisnis, dimana rata-rata bisnis tidak bisa di lepaskan dari apa yang namanya KREDIT alis bayar-nya telat alias pakai tempo.

Contoh kasus sebagai berikut: Si A seorang pedagang GROSIR PAKAIAN di Tanah Abang, dan memesan 50.000 pcs pakaian ke importir (dalam rupiah) dangan pembayaran tempo selama 1 bulan setelah penyerahan barang. Misalnya harga modal barang tersebut dari produsen di RRC adalah USD 3 per pcs, dan dengan asumsi nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah adalah USD 1 = Rp 10.000, maka si importir berani mamberikan harga kepada si A sebesar Rp. 40.000 per pcs.

Disini, si importir berharap akan mendapatkan keuntungan kotor sebesar Rp 10.000 per pcs (belum dipotong pajak, dministrasi, dan ongkos transport). Kemudian, si pedagang Grosir pakaian ini ( Si A ) dan si importir sepakat untuk melakukan transaksi bisnis dengan nilai jual Rp 40.000 per pcs dan pembayaran mundur selama 1 bulan setelah barang diserahkan. Lalu si importir memesan 50.000 pakaian ke produsen di RRC dengan harga USD 3 per pcs dan tentu juga dengan pembayaran tempo, misalnya 1,5 bulan.

Kemudian si produsen membuatkan pesanan pakaian tersebut dan mengapalkannya ke Indonesia. Lalu barang yang sudah diterima si importir diserahkan kepada si A. Si importir tinggal menunggu pembayaran dari Si A bulan depan. Di sini dapat dihitung berapa yang akan di bayar si A, yaitu: 50.000 pcs x Rp 40.000 = Rp 2 miliar.

Jika nanti si importir menerima Rp 2 miliar dari si A, maka ia akan membayar produsen sebesar : 50.000 pcs x USD 3 = USD 150,000. Jika di rupiahkan, berarti USD 150,000 x Rp 10.000 = Rp 1,5 miliar. Jadi si importir ancang-ancangnya akan mendapat untung (selisih) sebanyak Rp 500 juta (keuntungan kotor).

Bagaimana jika nilai tukar dollar naik terhadap rupiah?

Nah … inilah yang menjadi masalah bagi importir yang memasukkan barang ke pasar domestik dengan sistem utang / non cash. Sebagai contoh, dalam 1 bulan, nilai tukar berubah menjadi USD 1 = Rp 12.000, maka ia harus membayar produsen dengan harga awal sebesar USD 150,000. Tetapi karena nilai tukar berubah, maka yang ia bayarkan bukan lagi Rp 1,5 miliar, tetapi Rp 1,8 miliar, yakni dari perkalian USD 150,000 x Rp 12.000 (nilai tukar baru).

Jadi keuntungan kotor-nya berkurang dari Rp 500 juta menjadi Rp 200 juta saja. Dan Rp 200 juta tersebut hanya bisa menutupi biaya transportasi, pajak dan administrasi saja. Belum lagi jika ada biaya tak terduga dan pungli di sana-sini.

Mungkin kita akan berkata, “salah sendiri kenapa tidak memakai transaksi cash untuk meminimalkan resiko…!“. Memang dalam dunia bisnis, transaksi pembayaran tempo alias utang tidak bisa di hindarkan. Karena jika si importir ngotot memberlakukan pembayaran cash, kemungkinan pesaingnya berani memberikan utang 1 bulan.

Dari contoh diatas, maka jelaslah mengapa kenaikan nilai tukar dollar memukul pelaku bisnis, khususnya importir. Karena pendapatan mereka dalam rupiah, sedangkan pengeluaran dalam dollar Amerika. Selain itu, bagi pedagang dalam negeri yang barangnya berasal dari luar juga mengalami kesulitan, karena makin hari harga modal barangnya semakin tinggi dan semakin sulit menjual barang tersebut ke konsumen. Namun, jika pendapatan anda dalam DOLLAR AMERIKA dan pengeluaran dalam RUPIAH, kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah merupakan suatu “berkah”. Apalagi jika anda seorang pebisnis online internet, yang mendapatkan duit dollar dari program-program PPC atau affiliasi yang membayar anda dalam dollar.



partisimon dengan cover
Enter your Email

Preview | Powered by FeedBlitz

--------------------------------------
My business:

1. Bisnis pulsa Elektrik. Dapat pulsa dengan harga grosir dan dapat dijual lagi ke konsumen. Peluang bisnis bagus karena ada sistem affiliasinya.

2. Rahasia tersembunyi metode mencari uang di dunia internet!

Salam Jabat Erat
Partisimon.Com



Ingin tau metode penghasil uang dari internet? Beli e-booknya sekarang. Klik disini

Saya rekomendasikan RumahWeb Hosting Company sebagai mitra bisnis online anda:

gambar_rumahweb.gif


moneygrow banner

GrowUrl.com - growing your website

Mesin Penghasil Uang



KapanLagi.com Image Hosting



Info Bisnis & Peluang Usaha
Kunjungi dan lihat informasi bisnis yang terlisting disini, periksa secara detail, siapa tau cocok untuk anda...

www.partisimon.com








Info Iklan Baris GRATIS !!!
Logo Glodok Komputer

banner 180 x 60

banner formula bisnis 150 x 600

Anda mau beli komputer dan produk IT, kunjungi aja: GlodokKomputer.com -> klik bannernya di bawah ini (new window)