Home » Strategi bisnis » Jangan Sekedar Mengandalkan Harga Murah

Jangan Sekedar Mengandalkan Harga Murah

12.09.2007 · Posted in Strategi bisnis

Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan Herber Kelleher pada 1967 harus diakui merupakan penerbangan yang unik dan menjadi salah satu contoh kasus bisnis yang banyak dibahas di berbagai sekolah bisnis dunia.

Hal ini tentu bukanlah tanpa alasan yang jelas. Saat industri penerbangan berlomba-lomba memberikan berbagai tambahan pelayanan, mulai dari in-flight entertainment, makanan hingga berbagai pelayanan sebelum, saat maupun sesudah penerbangan, Southwest justru berani tampil beda, dan sukses besar.

Dapat dikatakan, Southwest sedikit melawan arus. Saat maskapai penerbangan lain memberikan berbagai tambahan pelayanan, Southwest justru menguranginya dan membuat segala sesuatu sederhana dan serba cepat.

Bayangkan saja. Kalau kita terbiasa menempuh penerbangan dengan kepastian nomor tempat duduk, Southwest justru menerapkan falsafah “first come first serve“, alias siapa yang memasuki pesawat terlebih dahulu dapat memilih tempat duduk sesukanya.

Terbiasa dengan tawaran makanan yang lezat? jangan mengharapkannya jika anda menggunakan Southwest. Paling hanya diberi snack jika penerbangan tergolong agak lama. Rata-rata penerbangan Southwest tak lebih dari 80 menit.

Apa yang dilakukan Southwest tentu dengan pertimbangan yang cukup cerdik. Southwest selalu konsisten dengan strateginya, yaitu menerbangi berbagai bandar udara yang masih underutilized dan dekat dengan metropolitan. Hal ini juga didukung dengan utilisasi pesawat yang sangat tinggi. Pesawat Southwest rata-rata berada diudara selama 11 jam –bandingkan dengan rata-rata industri yang hanya 8 jam.

Tidak mengherankan, Southwest dapat menawarkan harga yang cukup rendah. Ini tentu didukung dengan rata-rata biaya per mil yang hanya setengah dari pesaing terdekat. Yang tak kalah heboh, bagaimana Southwest memperlakukan penerbangan bagaikan hiburan di atas udara.

Prinsip yang dianut Southwest adalah penerbangan bagaikan suatu permainan yang harus dinikmati dan menyenangkan semua orang. Ini tercermin dari beberapa tagline iklannya seperti : “The 48-minute Love Affair” atau “Make Love, Not War” , sehingga Southwest dapat menjadi “LUV” (love) airline.

Ibarat pepatah, ada gula ada semut. Keberhasilan Southwest tentu mengundang semut-semut lain menikmati gula penerbangan jarak pendek tersebut. Maka muncullah sejumlah pesaing yang meniru apa yang dilakukan Southwest. Mulai dari Vanguard, America West, Reno hingga Kiwi Air. Belum lagi gebrakan salah satu maskapai besar di Amerika Serikat, United Airlines, yang meluncurkan Shuttle. Kemudian USAir dan Delta meluncurkan MetroJet dan Delta Express. Bahkan, Continental Airlines pun meluncurkan Continental Lite.

Semua pesaing tesebut mengadopsi model Southwest, mulai dari harga (murah), teknologi, struktur biaya, rute hingga berbagai peralatan operasional. Dan dibelakang mereka adalah maskapai-maskapai besar AS yang sduah cukup terkenal reputasinya.

Apakah semut-semut tersebut menikmati gula semudah Southwest? lihat saja bagaimana Continental Lite hanya mampu bertahan dua tahun dan akhirnya ditutup karena mengalami kerugian US$ 140 juta. Semut-semut lain juga bernasib sama, diakuisisi maskapai lain atau ditutup.

Memang tidak mudah meniru sebuah kesuksesan, meskipun semua cara dan strategi sudah ditiru, tetap saja tak berhasil. Steven P. Schnaars dalam bukunya Managing Imitation Strategies menggambarkan bagaimana para pengikut (follower)  yang meluncurkan produk me-too dapat mencuri pangsa si pemimpin pasar.

Schnaars memberika tiga alternatif untuk meniru sang pemimpin pasar.

Pertama, Lower price strategy: menawarkan produk yang sama dengan harga lebih murah. Startegi ini tentu membutuhkan operational excellence untuk menekan biaya.

Kedua, imitate and improve: memberikan berbagai tambahan kelebihan, misalnya dengan fitur yang lebih canggih tanpa harus mengorbankan harga yang dapat dicapai dengan memiliki teknologi atau sumber daya yang lebih canggih.

Yang paling menarik adalah alternatif ketiga, yaitu Market Power. Dua alternatif sebelumnya berkonsentrasi pada produk, sedangkan alternatif ketiga lebih melihat pasar, terutama dalam hal positioning dan komunikasi.  Penelitian intensif yang dilakukan Schnaars terhadap 28 produk pengikut menunjukkan bahwa positioning memberi pengaruh paling besar terhadap pangsa pasarnya.

Jika keduanya menggunakan positioning dan komunikasi yang sama, pengikut tidak akan pernah menjadi nomor satu dan hanya memperoleh pangsa pasar tidak lebih dari 3/4 pangsa sang pemimpin pasar. kegagalan para pengikut Southwest menunjukkan bagaimana mereka tidak memiliki Market Power meskipun harga dan produknya sama.

Dengan kata lain, apa yang dilakukan produk A dengan menghasilkan produk yang memiliki superioritas tidak berbeda jauh dari produk B harus dipadukan juga dengan strategi pemasaran yang superior. Tidak hanya sekedar mengandalkan harga murah dan perbaikan produk, tetapi juga punya market power yang memedai dengan memiliki positioning yang unik sebagai alasan membeli bagi pelanggan.

Oleh : Hermawan Kartajaya. www.markplusnco.com  Sumber : Majalah SWa

Related posts:

  1. Awal tahun 2008, harga tepung terigu naik, bagaimana menyiasati kenaikan harga ini?
  2. Harga BBM merangkak naik, LG tingkatkan volume ekspor
  3. Harga China

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Strategi mendongkrak omzet: “BERJUALAN TANPA TERLIHAT BERJUALAN” ?
Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan ...
5 cara untuk Mempererat Hubungan dengan Pelanggan
Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan ...
Membidik pasar yang tepat
Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan ...
Awal tahun 2008, harga tepung terigu naik, bagaimana menyiasati kenaikan harga ini?
Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan ...
Strategi Toko Bangunan Madju Utama: Kelebihan Bahan bisa Dikembalikan Lagi
Dari sekian kasus bisnis Harvard, kasus Southwest  adalah favorit saya. Maklum, Southwest Airlines yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan ...


7 Responses to “Jangan Sekedar Mengandalkan Harga Murah”

  1. wah bicara bisnis ya mas…. baguslah… semoga saya bisa menyusul dngan mengahasilkan sedikit dolar dari blogging… salam kenal dan kunjungan balasan

  2. Partisimon says:

    ya …begitulah kira-kira pak Haqiqie, baru coba mencoba nich ….-

    salam

  3. kpan ya, Indonesia bs menerapkan harga China? biar ekonomi rakyat bisa bangkit lagi…

  4. wah, ini artikel-artikel yg menarik [finally :-D ]….memang tidak gampang yah meniru inovasi, sebuah perusahaan A belum tentu bisa menduplikat produk perusahaan B…jadi bagi sebuah perusahaan baru-hijau-dan stratup pasti ada jalan naik ke puncak tanpa takut dilindas perusahaan2 besar. Apakah beanr begini sy memahaminya, pak ?

  5. @uwiuw. Ya kira-kira gitu pak. Soalnya si leader pasti ada “rahasia tersembunyi” yang gak di ketahui pesaing sehingga sulit di tandingi.

    Kayak dunia persilatan, sang guru mungkin menahan 1 jurus yang tidak di ajarkan ke murid-muridnya, untuk jaga-jaga…. he…he….

    Pada intinya, strategi yang digunakan tergantung situasi di lapangan. Contohnya Jam tangan Rolex …. jual jam kok mahal amat …tapi tatap aja laku ….

  6. Kalau penerbangan di Indonesia gimana tuh? mereka berlomba2 terbang murah, trus ada yang melawan arus dengan cara penerbangan klasik yang mahal (Kartika kalau tidak salah), tapi tetap saja gak bisa bersaing…

  7. Utk penerbangan, kayaknya SIA (singapore) masih no 1, BA (British Airlines) masih mengekor. Maksudnya, mereka bisa menjual produk dan layanannya yang bisa di terima pasar, dari segi harga dan kualitas.

    memang memposisikan diri kita bermain di mana agak sulit, harus bisa ngeliat situasi di lapangan. Kalau ngotot main di harga murah juga bahaya, soalnya margin yang tipis memakasa kita memperbesar volume penjualan. Kalau bermain di harga mahal (dengan produk premium) juga riskan, soalnya ceruk pasarnya tentu lebih kecil, kalau tidak bisa cepat capai BEP bulanan, lama-lama juga KO. Kayaknya lebih baik bermain di harga menengah.

    Kalau dalam situasi riil, misalnya kita mau buka toko pakaian di sebuah mal, katakalah malnya ramai, kita musti cari tau siapa pengunjung mal itu.

    apa pengunjungnya dari masyarakat sekitar mal atau pengunjung luar daerah. Kalau kebanyakan pengunjungnya dari luar daerah (misal seperti mal-mal di kawasan mangga dua – jakarta), tentu kita bisa menebak bahwa mereka lumayan berduit, dan mereka datang dengan bus pariwisata tentu memang sudah berniat utk ‘menghamburkan uangnya’. kalau kita jual barang dengan harga murah (karena kualitas juga kurang), biasanya justru kurang laku.

    Tapi kalau jual barang yang eksklusif berharga mahal, juga bisa kurang laris.

    memang susah-susah gampang. kalau jualan di mal, kayaknya produk-produk utk “wanita” mungkin lebih bagus, soalnya pengunjung mal kebanyakan wanita ….dan mereka doyan belanja …..

Leave a Reply