Home » Kisah Sukses » JUALAN PAKAI MOBIL TOKO : Dagang 5 Bulan Sudah Dapat Satu Mobil

JUALAN PAKAI MOBIL TOKO : Dagang 5 Bulan Sudah Dapat Satu Mobil

BERDAGANG DI ATAS MOBIL YANG DULU SEMPAT MENJADI TREN, KINI LAYAK DI COBA LAGI. SALAH SATUNYA DENGAN MENYIMAK CARA FEBY, PENJUAL SERABI BANDUNG DI ATAS MOBIL DI PELATARAN MASJID SUNDA KELAPA, JAKARTA.

Sebelum krisis ekonomi tempo hari, Dewi Motik Pramono memperkenalkan ide Mobil Toko (moko). Yakni berjualan di atas mobil. Melalui koperasi De Mono yang ia kelola, Dewi Motik pernah menggelar 100 moko dengan menggunakan mobil niaga sejenis Suzuki Futura.

Kini ide semacam itu tampaknya terdengar segar kembali. Terutama dengan makin banyaknya aktivitas konsumen berbasis komunitas, di samping melayani pusat-pusat kegiatan bisnis yang keramaiannya berlangsung singkat. Apalagi pada masa ramadhan dan lebaran. Di waktu-waktu seperti ini muncul pusat-pusat keramaian baru, semisal di seputar masjid atau lapangan terbuka. elain dagangan berupa hidangan berbuka puasa, aneka produk yang berkaitan dengan peralatan ibadah dan busana lebaran ramai peminatnya. Untuk melayaninya, unit-unit moko akan lebih luwes dan gesit untuk menjangkau berbagai lokasi dalam kurun waktu yang pendek.

Salah satu contohnya adalah Feby dan suaminya Rian, yang sejak tahun 2002 berdagang serabi bandung dengan menggunakan Moko di pelataran Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Menurut analisis bisnis dari Tabloid Duit!, setiap hari dengan jam operasi pukul 06.00 hingga 15.00, Feby dapat mengatongi keuntungan bersih paling tidak Rp. 6.600.000 setiap bulan. Dengan investasi awal sebuah Mobil daihatsu espass pada tahun itu seharga Rp. 30 juta, keuntungannya telah bisa mengembalikan modal awal dalam tempo lima bulan.

SURVEY TEMPAT.

Salah satu yang penting dalam menggeluti bisnis ini adalah mencari tempat strategis. Tempat strategis dalam hal ini bukan hanya menyangkut potensi keramaiannya yanga ada, tapi juga menyangkut waktu yang paling tepat. Menurut Feby, pelataran masjid Sunda Kelapa memang ramai dilalui kendaran dan terdapat banyak pedagang kaki lima yang mangkal di sana, sebagai tempat makan siang para pegawai kantor di sekitar itu.

Namun menurut Feby, penjualan paling tinggi bagi serabinya justru pada pagi hari ketika orang mau masuk kantor. Rupanya serabi bandung yang ia tawarkan di pergunakan sebagai sarapan pagi. “Selain itu, pada sore hari ketika orang mau pulang kerja, lumayan juga yang membeli,” tambah Feby.

Sebelum menemukan tempat di pelataran Masjid sunda kelapa, Feby sudha berjualan dengan mokodi kawasan Dharmawangsa ketika pembangunan hotel disana sedang berlangsung. Sasarannya adalah para pekerja pembangunan itu. feby berdagang makanan rumahan di samping serabi bandung sebagai pelengkap. Eh, ternyata yang banyak di minati justru Serabi Bandung. Dan yang membeli bukan para pekerja bangunan, melainkan orang-orang yang lewat di sekitar tempat tersebut.

Ketika pembangunan hotel itu usai, usai pula usaha moko mereka di kawasan itu. Maka sejak tahun 2002, ia dan suaminya melakukan survey tempat. Setelah seminggu mengelilingi berbagai pusat keramaian di jakarta, Feby yang tinggal di tangerang akhirnya memutuskan berdagang dengan moko di pelataran Masjid sunda kelapa. Dengan membayar sewa tempat RP. 300.000,- per bulan mereka mendapatkan tempat tersebut. Hingga kini, menurut Feby, tempat untuk berdagang di pelataran masjid sunda kelapa sudah tertutup alias tidak ada izin baru lagi. “Dulu kami sempat digusur, tapi setelah ada penataan dan pendataan kembali, kami mendapat tempat,” kata Feby.

SERABI BIKINAN NENEK

Serabi yang di jual oleh feby adalah bikinan almarhum neneknya yang akrab di sapa bu Dede. Sekarang produksi serabi itu di kerjakan oleh tiga karyawannya, yang di bayar secara harian Rp. 15.000,-. Karyawan itu bekerja sejak sore hingga tengah malam. Selanjutnya serabi di antarkan dari Tangerang ke kawasan Masjid sunda kelapa. Sebelum pukul 6.00 Feby sudah tiba di tempat itu untuk menyambut lalu lalang para karyawan kantor yang akan bekerja di tempat itu. Banyak juga penduduk sekitar yang berolah raga di tempat itu yang jadi pelanggan serabi bandung jualan Feby.

Menurut Feby, salah satu keistimewaan serabi bandung yang ia jual adalah kuahnya yang di anggap enak oleh para pelanggannya. Serabi itu di kemas dalam bungkusan plastik yang praktis untuk di bawa di atas motor atau di dalam mobil. Para pembeli serabinya biasanya tak perlu turun dari kendaraannya karena sambil menunggu kemacetan lalu lintas di kawasan itu, mereka cukup dengan memanggil atau memberi isyarat, feby dan stafnya akan segera mengantarkan serabi yang di pesan itu.

Moko milik Feby bentuknya sebenarnya sederhana. Tak lebih dari sebuah Daihatsu Espass yang kursi belakangnya sudah di copot. Ekor mobil itu di buat menghadap ke jalan raya. Lalu kapnya di biarkan terbuka sekaligus menjadi atap. Lalu didalam mobil, ada etalase tempat Feby meletakkan dagangannya. Mobil itu di parkir tak ubahnya seperti mobil-mobil lain yang di parkir di area itu. Jadi sama sekali tidak mengganggu lalu lintas. Juga tidak membuat suasana trotoar jadi semrawut.

PELUANG KERJASAMA.

Setelah empat tahun menggeluti bisnis ini mko ini, Feby sebenarnya berencana mengembangkan bisnisnya. Ia tengah mempersiapkan berbagai peluang kerjasama dengan model bisnis serupa, yakni berdagang menggunakan moko. feby sendiri sudah menjajaki aneka lokasi yang potensial, semisal di kawasan jalan Sabang, yang menurutnya ramai dan belum ada yang menjajakan serabi.

Buat Feby sendiri yang paling dipikirkan untuk di tawarkan kepada mitranya adalah menjual putus serabi bandung buatannya. Maksudnya adalah Feby yang memproduksi serabi sementara mitra kerjasamanya yang menjualnya. Untuk harga, Feby menawarkan diskon yang menarik. ” Itu bisa di negosiasikan.” kata Feby.

Feby sendiri ketika memulai bisnisnya membeli mobil Daihatsu Espass tersebut secara kontan senilai Rp. 30 juta. Menurut dia, tak sampai dua tahun ia sudah kembali modal. Meskipun demikian, ia akui keadaan ekonomi sekarang ini terlihat stagnan daya beli tidka sekuat tahun 2002. Itu sebabnya, harga serabi yang ia tawarkan baru sekali saja mengalami penyesuaian, yakni sejak beberapa bulan lalu dari Rp. 7.500,- menjadi Rp. 8.000,-.

BAGAIMANA MENDAPATKAN MOKO

Bagi yang tertarik mendapatkan moko, sebenarnya banyak jalur yang dapat di tempuh. Salah satunya adalah dengan membeli mobil baru yang sudah di modifikasi. PT Indomobil Niaga International adalah salah satu produsen otomotif yang menyediakan divisi khusus untuk ini. Menurut Arisman Zagoto, Special Project officer PT Indomobil, tak kurang dari 400 moko sudah di lansir oleh pihaknya sejauh ini. “Ini masih yang terpantau oleh kami. Bisa juga para pembeli langsung pergi ke dealer, jadi bukan lewat kantor pusat,” kata Arisman.

Menurut Arisman, ada aneka bentuk Moko yang bisa di modifikasi sesuai dengan pesanan pembali. “Tergantung peruntukannnya. Kita bisa bikin ‘rumahnya’, misalnya yang bentuk warung makan. Bisa juga seperti mobil roti,” kata Arisman. Dia sendiri berpendapat moko merupakan salah satu solusi untuk mendukung bergulirnya perekonomian sekaligus mendorong entrepreneurship di kalangan menengah bawah.

Moko, menurut Arisman, pada masa mendatang akan menjadi tren terutama menyambut berbagai aneka even. Sebagai contoh, adanya kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON)
membutuhkan dukungan logistik diseputar kegiatan. Moko adalah sarana yang paling fleksibel untuk memenuhi kebutuhan ini. “Bayangkan, begitu kumpul 50 kendaraan, itu sudha jadi restoran raksasa,” kata Arisman.

Untuk mendapatkan moko baru, menurut Arisaman, untuk saat ini cukup menyediakan uang muka sebesar Rp. 22 juta hingga Rp. 25 juta. Dengan cicilan Rp. 125 ribu per hari, dalam 3 tahun pembelian itu akan lunas. ” Nah, tantangannya kan mendapatkan keuntungan Rp. 125 ribu per hari. Saya kira itu bukan target yang sulit,” kata Arisman.

Serabi Bandung Feby

Samping Masjid Sunda kelapa, Jakarta

Telp: 021- 7309178

Arisman Zogoto

Special Project Officer

PT. Indomobil Niaga Internatioanal

Wisma Indomobil Lt 7

Jl. MT haryono Kav 8

Jakarta 13330

Telp. 021- 8564530 ext 1234

Sumber : Tabloid Duit!
EBEN EZER SIADARI