Kiat Sukses Bisnis voucher handphone

Monday, October 29th 2007. | Strategi bisnis

Bisnis voucher itu bisnis kepercayaan. Ada tiga macam jenis voucher handphone, voucher fisik, lalu voucher IP verupa selembar kertas print ada nomor seri tapi nomor kodenya terbuka sehingga rawan kebocoran, dan voucher elektrik hanya berupa nomor kode saja. Untuk voucher fisik atau IP transfer datanya dari pelanggan ke server pusat operator.

Sedangkan untuk voucher elektrik ada provider lain seperti dealer yang akan mengecek apakah benar yang mengirim sms itu agennya. Dealer akan mengecek lewat server komputer yang ada di dealer.Sedangkan voucher elektrik itu terbagi beberapa macam, misalnya ada model M-Kios atau M-Tronic dan peralatannya berupa chip yang dikeluarkan provider yang hanya bisa mengisi satu jenis voucher handphone, seperti M-Kios hanya untuk produk Telkomsel saja, M-Tronic untuk produk Mentari, dsb.

Tipe kedua elektrik, dimana ada vendor yang menggabungkan teknologi. Sistemnya mengumpulkan beberapa dealer sehingga dengan satu chip bisa mengisi semua macam kartu ponsel. Sedangkan voucher IP rawan kebocoran sehingga jarang di jual. Penjual voucher handphone harus memahami dua hal ini sebelum ia menentukan jenis voucher yang ingin dijual, apakah fisik atau elektrik.

Untuk menjalin kerjasama dengan operator seluler, dealer harus berbadan hukum, seperti misalnya Telkomsel di Jakarta memiliki puluhan dealer dan diluar daerah. Kalau seseorang ingin buka outlet voucher di mal, carilah tempat yang strategis, disewa, didekorasi, setelah itu lakukan penjualan. Disetiap mal ada pusat sentra selular , pasti ada grosir voucher atau grosir handphone. Umumnya grosir voucher tidak menjual handphone dan yang dipajang berupa voucher saja. Toko eceran akan mengambil grosir voucher dari agen/ grosiran, dan agen ini ada di beberapa mal atau sentra pasar.

Agen/ grosir voucher dengan mudah kita temui di mal, dealer ditiap daerah juga pasti ada. Untuk memperoleh alamat dealer itu bisa lewat operator selular kartu ponsel bersangkutan. Di Jakarta misalnya, agen voucher itu banyak di Roxy dan ITC Cempaka Mas.

Proses kerjanya secara garis besar dari operator ke authorized dealer, baru voucher itu ke agen atau grosir. Agen ini biasanya menjual dalam jumlah besar dan melakukan pembelian partai dengan harga yang lebih murah dari harga eceran, dan ia memiliki konsumen terdiri dari toko-toko yang menjual secara eceran.

Untuk menentukan lokasi strategis, di perumahan harus ada jalan tembus, berupa jalan poros, dan bisa menembus perumahan lainnya, atau di tepi jalan raya, tetapi jangan terlalu macet. Bisa juga didepan kampus atau perkantoran. Sedangkan untuk mencari pasar pertama kali bisa di lakukan dengan memasang spanduk, atau promosi dengan brosur.

Bagi pemain bisnis voucher khususnya di tingkat pengecer atau agen, usahanya tergantung ketersediaan barang, bila hanya selisih harga sedikit mereka berani mengambil barang. Pergerakan harga juga sesuai kebutuhan pasar yang bisa diketahui oleh agen dari para dealer atau rekanan usahanya. Bisnis ini sudah jadi tren dan sudah jadi kebutuhan pokok, sednagkan tingkat harga di pengecer tidak mungkin selalu lebih murah dari pasar. Pengecer bisa saja mengambil margin kecil, misalnya membuat harga salah satu voucher yang paling laku lebih murah dibanding yang lain dengan margin keuntungan Rp. 500 – Rp. 1.000, dan rata-rata keuntungan voucher bisa mencapai Rp. 1000 sampai Rp. 3.000.

Untuk menyikapi persaingan harga pengecer bisa membuat perkumpulan seperti di Jakarta Utara ada Asosiasi Pedagang Selular, yang mengimbau untuk tidak perang harga, atau bisa juga pengecer jual murah tapi jangan di tampilkan di papan nama counternya.

Persaingan dengan bisnis voucher lewat MLM, meski berpengaruh terhadap bisnis voucher konvensional tetapi tidak terlalu besar, kecuali tren masyarakat Indonesia itu sudah terbiasa dengan MLM. Seperti voucher fisik yang tetap masih ada, meski ada voucher elektrik, baik pra bayar atau pasca bayar, seperti di Singapora dengan teknologi komunikasinya jauh lebih berkembang.

Keuntungan

Investasi sebagai pengecer di bawah agen, kalau hanya menjual voucher cukup Rp. 3 juta untuk modal berputar tapi harus siap tiap hari mengambil barang ke agen, tergantung target penjualan per hari. Kalau rata-rata harga voucher Rp. 60.000, maka omsetnya sehari dengan menjual 50 voucher bisa Rp. 3 jutaan dengan rata-rata untung Rp. 2.000 per voucher atau total keuntungan Rp. 100 ribu perhari atau Rp. 3 juta per bulan.

Bila pengecer ingin ada stok untuk dua hari berikutnya, modal bisa sekitar Rp. 6 jutaan. Ini hanya dari voucher. Kalau mau menjual aksesoris yang menarik, modalnya Rp. 500 ribu sampai Rp. 1 jutaan. Bila ingin menjual handphone second misalnya, dengan stok 10 yang harganya Rp. 500 ribuan berarti modalnya ditambah Rp. 5 juta lagi. Bila lokasinya di mal tidak perlu stok handphone tersebut, tetapi di eceran kadang perlu stok, seperti di perumahan, atau bisa lewat pemesanan saja. Itu dari modal yang berjalan di luar sewa tempat , etalase, dekorasi, komputer untuk membuat laporan, karena ada yang sistemnya mengecek inventori dan perubahan harga.

Yang mengatur perubahan harga itu pasar dan pemain yang stok barangnya banyak. Biaya sewa tempat ada yang Rp. 4 juta sebulan, di mal ada yang Rp. 50 juta setahun, di pinggir jalan Rp. 4-5 juta sampai Rp. 20 juta setahun, tergantung besar kecil dan posisi strategis tempat serta keamanan lokasi. Sedangkan gaji pokok karyawan sekitar Rp. 600-700 ribu, minimal dua orang kecuali kalau di perumahan bisa satu orang saja, dan jam buka dari pagi sampai siang lalu di lanjutkan sore sampai malam. Jadi di lengkapi dengan menjual produk selain voucher modal awal bisa sekitar Rp. 15 juta – 20 juta untuk set up awal di luar sewa, omsetnya tergantung besar kecil pasar, tetapi ( kalau ramai) bisa berpotensi untung perbulan Rp. 3-6 jutaan. Untuk memperoleh modal awal ini bisa bekerja sama dengan investor.

Masbukhin Pradhana
Mentor Entrepreneur dan pemilik jaringan grosir voucher.
Hp: 0812-1055772
email:  bukhin[at]yahoo[dot]com

Sumber: Tabloid Peluang Usaha