Langkah BUYBACK untuk mengelola laba bersih perusahaan

Bagi sebuah perusahaan, laba adalah komponen yang sangat penting. Nilai (angka) laba bersih per lembar atau Earnings Per Share (EPS) selalu diperhatikan oleh para investor dan analis saham. Contohnya Manusia terkaya sejagad, Mr Warren Buffet, menyukai saham yang EPS-nya bertumbuh secara konsisten. Karena saham yang EPS-nya bertumbuh secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan dikelola dengan baik serta memiliki competitive advantage.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika manajemen memiliki insentif besar untuk “mengelola” EPS, dan salah satu cara pengelolaan EPS adalah dengan pembelian kembali saham yang beredar (share buyback). Misalnya beberapa waktu lalu, sebuah perusahaan telekomunikasi dikhabarkan akan melakukan buyback senilai Rp 3 triliun untuk meningkatkan pertumbuhan Earnings Per Share -nya. Pertanyaanya, apakah langkah pembelian kembali saham ini (buyback) selalu berimplikasi mendongkrak nilai EPS? dan bagi si pemegang saham, apakah dampak dari earnings management melalui tindakan buyback ini?.

BUYBACK & EPS

Para pakar ekonomi dan finansial memberikan beberapa teori yang menjelaskan motivasi dari tindakan buyback ini. Beberapa tujuan dari langkah buyback diantaranya adalah memberikan sinyal ke pasar bahwa harga saham undervalued, mengubah struktur modal serta mengurangi free cash flow yang dapat disalahgunakan oleh manajemen. Namun, dalam prakteknya, motif yang sering diajukan manajemen saat melakukan buyback adalah untuk mendongkrak EPS (Brav, dkk., 2003).

EPS atau Earning Per share merupakan angka yang menunjukkan laba bersih perusahaan yang diterima setiap saham. Ada 2 cara yang paling umum untuk menghitung EPS, yakni: basic EPS dan fully diluted EPS. Untuk teknik basic EPS, di pakai jika perusahaan hanya mempunyai saham biasa. Sedangkan teknik fully diluted EPS digunakan jika perusahaan mamakai instrumen pendanaan yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa. Contohnya obligasi konversi, opsi saham dan waran.

Basic EPS merupakan laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dibagi jumlah saham biasa yang beredar. Laba bersih dihasilkan selama periode fiskal, misalnya satu tahun, namun jumlah saham yang beredar pada periode tersebut akan fluktuatif jika perusahaan menerbitkan saham beberapa kali atau melakukan langkah buyback. Oleh karenanya, jumlah saham yang beredar harus dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang (time-weighted average share outstanding). Tambahan tersebut berkisar dari angka satu untuk periode awal dan nol untuk akhir periode.

Sebagai contoh: Emiten A memperoleh laba bersih sebesar Rp 125 miliar sepanjang tahun 2008, mempunyai 100 juta lembar saham diawal tahun 2008 dan menerbitkan 50 juta lembar saham baru pada tangal 30 Juni 2008. Rata-rata tertimbang saham beredar selama tahun 2008 adalah 125 juta [ dari (100 juta x 1) + (50 juta x 0.5)]. EPS tahun 2008 adalah sebesar Rp 1.000 (dari Rp 125 miliar dibagi 125 juta). Untuk perhitungan fully diluted EPS lebih rumit karena mengasumsikan bahwa instrumen konversi telah ditukar menjadi saham biasa.

Buyback mempengaruhi nilai EPS, baik melalui labar bersih atau jumlah saham beredar. Dampak buyback pada jumlah saham beredar tergantung timing buyback-nya. Misalnya saat emiten A melakukan buyback 10 juta saham pada awal periode, maka saham yang beredar pada periode tersebut akan berkurang sebanyak 10 juta saham. Jika tindakan buyback dilakukan pada pertengahan periode, maka langkah ini hanya akan mengurangi saham beredar sebanyak 5 juta lembar.

Tindakan buyback yang mengurangi jumlah saham beredar tidak secara otomatis menurunkan EPS, karena buybuck juga mempengaruhi laba bersih. Perlu diingat bahwa tindakan buyback memerlukan dana tunai yang berasal dari internal perusahaan atau utang baru. Laba bersih akan berkurang sejumlah imbal hasil (return) yang semestinya dihasilkan oleh kas yang digunakan untuk buyback atau berkurang sejumlah bunga utang.

Menurut Hribar, dkk (2003), buyback hanya akan menaikkan EPS jika return yang hilang atau pembayaran bunga lebih kecil dari earning-to-price ratio (yakni, EPS dibagi harga saham) saat buyback dilakukan. Karena itu, harga buyback yang terlalu tinggi akan mengecilkan earning-to-price ratio sehingga EPS justru turun dengan adanya buyback.

Dan jika buyback dilakukan mendekati akhir periode fiskal atau jika return yang hilang adalah return yang baru bisa dinikmati pada periode yang akan datang, dampak buyback terhadap laba bersih sangat kecil. Dengan dmeikian, EPS tahun ini akan meningkat akibat berkurangnya saham beredar. Dampak penuh dari buyback ini baru akan terasa pada periode-periode fiskal berikutnya.

EPS tidak selalu naik

Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa langkah buyback tidak selalu berimplikasi menaikan nilai EPS. Penelitian Hribar, dkk (2003) terhadap sampel 23.704 kasus buyback di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hanya 11% kasus buyback yang berhasil meningkatkan EPS secara nyata. Seandainya-pun EPS berhasil dinaikkan, dampak dari return yang hilang–karena berkurangnya dana untuk investasi–dapat memperburuk EPS diperiode yang akan datang.

Oleh karena itu, investor harus berhati-hati dalam menilai pencapaian BPS melalui buyback. Hribar menemukan bahwa reward berupa price premium bagi perusahaan yang melampaui target BPS-nya dengan menggunakan buyback adalah 60% lebih rendah dibandingkan dengan tidak menggunakan buyback.

Aksi manajemen perusahaan “mengelola” laba dapat merugikan pemegang saham. Seorang manajer terkadang memiliki wawasan yang lebih pendek dari investor. Karena kinerjanya dievaluasi setiap tahun, manajer cenderung lebih fokus pada pencapaian target tahunan, misalnya EPS. Manajer juga sensitif terhadap menurunnya harga saham perusahan dan sedapat mungkin berusaha untuk menahannya. Buyback menawarkan solusi cepat (jangka pendek) untuk kedua hal tersebut. Tetapi, dapat saja langkah ini menjadi solusi jangka pendek dengan biaya jangka panjang.

Kas untuk buyback sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan investasi baru yang menciptakan nilai tambah. Sebuah pertanyaan, apakah si pemegang saham akan semakin makmur jika naiknya EPS tahun ini ternyata menekan kinerja perusahaan pada periode yang akan datang? Michael Porter mengingatkan supaya manajer menghindari myopicbehavior , yaitu mengorbankan pertumbuhan jangka panjang demi hanya mengejar sasaran jangka pendek.

Sumber Referensi: Artikel pada Koran Kontan yang ditulis oleh Lukas Setia Atmaja, Value Creation and Corporate Governance (VCCG) Workgroup Prasetiya Mulya Business School.

Panduan menghasilkan uang melalui internet

One Response

Leave a Reply