Membidik pasar yang tepat
Kembali saya menemukan sebuah artikel dari Koran kompas edisi 10 april 2005, hal 33. Wah udah lama juga ya, udah 3 tahun. Namun saya tertarik dengan artikelnya dengan judul: MEMBIDIK PASAR YANG TEPAT. Di artikel ini berisi beberapa strategi bisnis yang dilakukan oleh pasangan suami istri Toto Subagiyo dan Niken Pudyati dalam memasarkan produk mereka berupa hiasan dinding dari kulit kambing.
SAMA seperti anggapan kebanyakan orang, Jakarta adalah pusat pekerjaan. Datang saja ke Jakarta, pasti mendapat pekerjaan. Begitu kira-kira yang ada didalam benak pasangan Toto Subagiyo (38) dan Niken Pudyati (35) ketika datang ke Jakarta pada awal tahun 1980-an.
Pasangan yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah, ini mengira akan segera mendapat pekerjaan dikantoran jika hijrah ke Jakarta. Nyatanya setelah lama mencari pekerjaan yang dikantoran yang mereka idam-idamkan ternyata tidak didapat. Mau tidak mau mereka harus melakukan sesuatu untuk bertahan mengingat tidak ada sumber income atau gaji.
“Akhirnya saya memutuskan untuk membuat hiasan dinding dari kulit kambing. Hiasan seperti itu sudah dilakukan keluarga saya sejak lama. Inginnya sich kerja yang lain, tetapi karena tidak dapat-dapat, akhirnya balik ke kulit kambing lagi,” ujar Toto yang melihat kulit kambing tidak dimanfaatkan lebih lanjut oleh orang Jakarta.
Merintis usaha hiasan dinding di Jakarta bukanlah hal gampang. Mereka tidak punya modal. “Modal kami hanya Rp 1 juta. Kami juga diejek saudara dan teman karena modal tipis situ. Seharusnya kalau mau berbisnis, paling sedikit modalnya Rp 20 juta. Kami sebenarnya juga tidak yakin. Tetapi harus dicoba, daripada tidak makan,” cerita Niken yang mulai merintis usaha itu pad tahun 1983.
Hiasan dinding yang mereka buat adalah kulit kambing yang mereka lukisi gambar wayang atau pemandangan. Kulit itu lalu diberi bingkai kayu dengan cara diikat tali. Uang Rp 1 juta itu bisa dibelikan 10 lembar kulit kambing berikut bahan-bahan lainnya. Mereka membuat hiasan itu berdua saja karena mereka tidak punya uang untuk mengupah tenaga kerja. Niken ikut bekerja walaupun sebenarnya membuat hiasan seperti itu biasanya lebih banyak dilakukan laki-laki. “Setelah jadi, kami coba tawarkan ke toko-toko. Ternyata banyak yang menolak. Untungnya ada satu toko yang mau menerima, itupun dengan cara dititip, bukan dibeli. Eh, baru satu minggu dititikan, langsung laku. Dari situ bisnis ini mulai berkembang,” kenang Toto yang dikaruniai empat anak dari pernikahannya dengan Niken.
Dari hanya menitipkan satu hiasan, mereka mulai menitipkan dua, sepuluh, lalu seratus, dan akhirnya makin banyak. Dari sana pembeli dan tawaran pun makin bertambah. Kebetulan, mereka juga mendapat tawaran pameran yang semakin memperlebar pintu bisnis mereka.
“kami mulai berani berpameran di bazar-bazar kecil. Lalu dari sana bertemu pembeli baru,” jelas Toto. Pada saat itu pula Toto melihat hiasan berupa wayang mulai kurang diminati. Mungkin peminatnya terbatas pada orang Jawa atau peminat wayang. Toto merasa harus mengubah desain agar pasar yang dibidik makin luas.
Akhirnya toto memutuskan mengubah desain, dari gambar wayang menjadi kaligrafi. Toto melihat kaligrafi memiliki pasar yang lebih luas daripada wayang. “Tukang kami pun merasa lebih mudah membuat kaligrafi daripada wayang. Sekarang kami justru kesulitan mencari tukang pembuat wayang. Kami harus tetap membuat agar seni itu tidak hilang,” kata Toto yang memiliki 10 karyawan.
Keputusan mengubah desain agaknya menjadi keputusan yang tepat. Angka penjualan mereka makin lama makin meningkat, apalagi mereka akhirnya memiliki pembeli tetap dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pembeli dari Tanjung Pinang, Medan, Makassar, Surabaya dan kota-kota lain di Indoensia.
Selain mengikuti beberapa bazaar, mereka juga membuka sebuah stan kecil di Jatinegara, Jakarta Timur. Stan ini yang membantu mereka memperlebar pasar karena pasar Jatinegara termasuk pasar grosir yang didatangi banyak pembeli dari luar Jakarta.
Berhasil menembus pasar lokal, pasangan ini mulai menjajal pasar luar negeri. Awalnya memang tidak direncanakan. Tiba-tiba saja mereka memiliki 600 buah hiasan karena tidak diambil pemesannya. Kebetulan, mereka melihat iklan untuk ikut pameran di Singapura. Mereka memutuskan ikut sambil mencoba pasar yang lain. Ternyata di Singapura, semua hiasan dinding itu habis terjual.
Dari Singapura mereka lalu mencoba pasar Brunei Darussalam, Malaysia dan akhirnya Timur Tengah. Pasar Timur Tengah mereka akui merupakan pasar yang sangat besar mengingat negara-negara di Timur Tengah merupakan negara muslim. “saat ini kami sudah tidak lagi ikut pameran karena kami sudah memiliki pembeli tetap dari Turki dan Arab Saudi. Setiap bulan kami sedikitnya mengirim satu kontainer,” kata Niken.
Pengiriman ke Turki dan Arab ini, menurut Niken, masih belum mencapai jumlah yang dipesan. Misalnya ada pesanan 7.000 buah, mereka hanya sanggup mengirim 1.000 buah. “Sebenarnya kami sanggup saja membuat 7.000 buah, tetapi kami kesulitan bahan baku dan modal kerja,” ungkap Niken.
Soal tenaga kerja, Niken mengaku tidak kesulitan mengingat mereka sering mendidik orang untuk membuat hiasan kulit kambing itu. Selain itu, keluarga besar mereka juga membuat hiasan yang sama. Bahan baku yang paling sulit adalah kulit kambing. Walau mereka sudah mengetahui pusat-pusat penjualan kulit kambing, mereka tidak bisa asal mengambil kulit. Harus kulit yang benar-benar bagus yang bisa dijadikan hiasan dinding ini.
Mereka juga kesulitan modal kerja. “Dulu mau memberi uang muka hingga separuh, sekarnag tidak ada pembeli yang mau demikian. Nilai transaksi mencapai Rp 200 juta, mereka hanya mau memberi uang muka Rp 5 juta. Ini menyulitkan kami,” Jelas Niken yang mulai mendekati Bank untuk mencari modal.
Kesulitan ini yang membuat mereka sekarang tidak lagi mengikuti pameren kerajinan. “Sekarang saja kami kewalahan, tidak bisa memenuhi semua pesanan. Jika ikut pameran lagi, kami kuatir tidak bisa berkonsentrasi pada pesanan yang sudah ada,” aku Niken yang menjual hiasan ini dari harga Rp 15.000 sampai Rp 150.000 per buah.
Untuk menekan ongkos produksi, sekarang mereka memanfaatkan teknologi sablon. Selain ongkos kerja menjadi murah, waktu pengerjaan pun menjadi lebih pendek. “Semula semua kaligrafi kami tulis sendiri dengan tangan. Ternyata sehari hanya menghasil satu hiasan. Sementara dengan sablon, bisa 100 buah sehari,” jelas Toto.
Pengunaan sablon ini juga dilakukan agar harga jual hiasan mereka bisa bersiang dengan harga jual perajin lain. “pembeli kadang tidak peduli ini buatan tangan atau sablon, yang penting mereka mendapatkan harga murah. Namun, kami masih melayani pembeli yang meminta tulisan tangan asli,” ujar Toto yang mengaku selalu menjelaskan kepada pembeli hiasan mana buatan tangan, hiasan mana yang sablon. (ARN)
Sumber: Koran kompas.
Sayang sekali, tidak terdapat alamat yang bersangkutan, jika anda membutuhkan Kontak atau alamat mereka, mungkin bisa menghubungi kompas. trims.
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.