PERSISTENSI & KEBULATAN TEKAD, 2 kunci sukses wirausaha
Oleh: Tjandra Tedja
Banyak seminar yang bilang bahwa “semua orang bisa mencapai kesuksesan“. Pertanyaannya adalah, mengapa lebih banyak orang yang gagal di banding mereka yang sukses?
Di salah satu dinding kantor saya terpampang sebuah poster berpigura yang berisikan kata-kata pembakar semangat paling saya sukai yang ditulis oleh Calvin Coolidge, Persistence :
Nothing in the world can take the place of persistence. Talent will not; Nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius will not; Unrewarded genius is almost a proverb. Education will not; The world is full educated derelicts. PERSISTENCE AND DETERMINATION ALONE ARE OMNIPOTENT.
Kalau kata-kata pembakar semangat itu diterjemahkan bebas, maka bunyinya kurang lebih sebagai berikut, Persistensi :
Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan persistensi. Bakat tidak bisa; tidak ada yang aneh dari orang yang berbakat yang gagal. Jenius tidak bisa; jenius yang tidak dihargai sudah seperti pepatah. Pendidikan tidak bisa; dunia ini penuh dengan pengangguran yang berpendidikan. PERSISTENSI DAN KEBULATAN TEKAD SAJA SUDAH MAHA KUASA.
Sebagai orang yang merasa memiliki bakat, kejeniusan dan pendidikan tinggi saya awalnya, jujur saja, merasa terhina dan disepelekan oleh pendapat Calvin Coolidge tersebut. Sampai dengan tahun 2003, karir saya meningkat pesat dari tahun ke tahun bermodalkan 3 hal yang disepelekan Calvin Coolidge, bakat, kejeniusan dan pendidikan.
Di peralihan tahun 1999 ke 2000 saya bahkan menduduki posisi Top management di salah satu perusahaan besar teknologi informasi Amerika Serikat, Computer Associate, di Singapura. Yang membanggakan lagi, sebagai orang indonesia saya justru memiliki anak buah berkewarganegaraan Singapura, Thailand, Hongkong, India, Belgia dan Amerika Serikat. Setiap akhir pekan saya pulang ke Indonesia bertemu keluarga dan kembali lagi ke Singapura di awal minggu, semua itu dengan biaya yang ditanggung perusahaan. Sungguh sebuah karir yang bisa membuat banyak orang iri hati.
Tetapi ketika tahun 2003 saya memutuskan untuk berwirausaha, saya baru menyadari bahwa pendapat Calvin Coolidge itu 1000% (seribu persen) benar adanya. Saya tidak bisa lagi menyombongkan diri dengan bakat, kejeniusan dan pendidikan tinggi yang saya miliki. Bahkan track record cemerlang dari tahun-tahun menjalin karir seakan-akan tidak berarti sama sekai di dunia wirausaha.
Dua usaha awal pertama saya gagal total dan menghabiskan uang ratusan juta rupiah yang menguap entah kemana. Usaha ketiga saya yang berpartner dengan teman bermodalkan milyaran rupiah awalnya juga hampir kandas. Di usaha yang ketiga ini, 2 tahun pertama kami berdarah-darah dan menderita kerugian dari bulan ke bulan hingga hampir bangkrut menjelang tahun ke 3.
Baru ketika saya membulatkan tekad bahwa usaha saya yang ketiga harus berhasil meski jalannya berbatu dan tidak mulus, dan ngotot/gigih habis-habisan (persisten) menggeluti usaha ketiga saya lebih sungguh, keras dan konsisten meski partner saya sendiri sudah mulai meragukan kelangsungan bisnis tersebut, maka kesuksesan itu mulai menunjukkan parasnya yang cantik.
Calvin Cooledge tampaknya mengerti benar bahwa persistensi dan kebulatan tekad adalah 2 kunci yang utama bagi seseorang yang mau sukses. Seseorang boleh saja jenius dan berpendidikan tinggi, tetapi ketika ingin menapaki kesuksesan tidak tahan uji dan sudah menyerah ketika kesulitan-kesulitan awal menghadang, maka sudah pasti kesuksesan tidak dapat diraih.
Perbedaan paling mencolok antara orang sukses dan tidak sukses terlihat dari persistensi dan kebulatan tekad yang bersangkutan. Orang-orang sukses adalah orang yang mau melakukan kerja keras dan nyata secara terus menerus dan konsisten, sementara orang-orang yang gagal adalah orang-orang yang hidupnya selalu dibuai mimpi tanpa mau melakukan kerja keras secara konsisten sampai tujuannya tercapai?
Mungkin sampai sekarang kita tidak akan pernah mengenal lampu jika Thomas Alva Edison menyerah di awal-awal eksperimennya. Bola lampu di temukan Edison setelah ia gagal ribuan kali didalam eksperimennya. Ya, ribuan kali!
Begitu juga kita tidak akan mungkin mengenal Kentucky Fried Chicken jika Kolonel Sanders yang sudah tua itu menyerah di awal-awal usahanya mencari pemilik restoran yang mau memakai resepnya. Baru ketika diusahanya yang ke 1009 (ya, seribu sembilan) seseorang mau memakai resepnya dan berdirilah Kentucky Fried Chicken.
Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa kebulatan tekad dan usaha yang gigih terus-menerus serta pantang menyerah lah yang membedakan seorang pemenang dari orang lainnya. Bahkan dalam kasus Kentucky Fried Chicken, kesuksesan justru diraih oleh seseorang yang sudah tua tapi persisten.
Sikap persisten membuat seseorang dapat mencapai segala tujuan yang ditargetkannya. Para pemenang sejati sadar bahwa mereka tidaklah langsung akan menjadi pemenang dalam satu malam. Contoh yang paling sempurna dalam hal ini adalah bayi. Ya, kita justru harus belajar banyak dari bayi.
Sebenarnya ketika kita masih bayi kita sudah memiliki sikap persisten dan pantang menyerah itu. Coba perhatikan, apakah seorang bayi bisa langsung berlari? tentu tidak. Usaha seorang bayi untuk bisa berlari diawali dengan usahanya untuk mencoba berdiri dulu. Ketika seorang bayi mencoba untuk berdiri dan terjatuh lalu menangis, apakah bayi itu langsung kapok dan tidak mau mencoba berdiri lagi? Tidak! Dia memang menagis, tapi dia tidak kapok-kapoknya mencoba berdiri dan berdiri lagi puluhan kali sampai akhirnya bisa tegak berdiri.
Ketika sudah mulai bisa berdiri sang bayi akan mencoba untuk melangkah. Meski usaha awalnya dalam melangkah sering terjatuh dan menangis lagi, dia tidak kapok. Sang bayi akan terus berusaha melangkah sehingga akhirnya bisa melangkah sempurna dan tertawa girang. Setelah itu barulah ia mencoba berlari-lari kecil hingga akhirnya pandai berlari kesana kemari membahagiakan ayah dan ibunya. Bayangkan kalau sang bayi sudah kapok di awal-awal usahanya mencoba-coba, maka sang bayi akan tetap merangkak sampai tua.
Nah, kalau sejak bayi kita sebenarnya sudah punya sikap persisten dan pantang menyerah, mengapa setelah dewasa kita justru banyak yang tidak lagi memiliki sikap persisten luar biasa seperti sang bayi. Kebanyakan dari kita langsung menyerah di awal usaha kita mencoba sesuatu yang baru. Mengapa?
Peranan Orang Tua dalam Kesuksesan Anak
Setelah kita mulai dewasa dan bersekolah, sadar atau tidak sadar orang tua kita mulai memarahi kita kalau kita membuat kesalahan. Semakin besar kita semakin kencang orang tua kita memarahi kita begitu kita membuat kesalahan. Ini semua secara psikologis akan membuat kita takut berbuat kesalahan karena kita mengasosiasikan kesalahan dan kemarahan atau bahkan hukuman dari orang tua. Padahal, pada waktu kita masih bayi kesalahan terbesar sekalipun (terjatuh saat mulai belajar berdiri dan kepala benjol) tidak membuat kita dimaki-maki oleh orang tua kita. Kita bahkan dibelai-belai dan dihibur supaya tidak menangis dan berani mencoba lagi dan lagi.
Dengan demikian, semakin kita tambah dewasa, secara tidak sadar kita sudah di programkan untuk menjadi manusia sempurna tanpa salah. Jadi kita selalu berfikir puluhan, ratusan bahkan ribuan kali sebelum mencoba sesuatu yang baru. Karena kita takut gagal dan mendapatkan cemoohan. Dengan demikian, janganlah heran jika banyak diantara kita yang akhirnya tidak tahan uji dan mudah menyerah begitu melakukan sebuah kesalahan saja.
Saya termasuk orang yang bertumbuh di lingkungan keluarga yang menekankan tidak boleh melakukan kesalahan, atau diganjar dengan kemarahan bahkan hukuman. Dengan demikian, awal saya untuk memutuskan mencoba sesuatu yang baru – berhanti jadi karyawan dan memulai usaha sendiri – adalah awal-awal yang sulit dan penuh perjuangan serta air mata.
Pernah ketika di awal-awal kegagalan saya lalu berpikiran untuk menyerah: kembali menjadi karyawan. Tapi, karena akhirnya saya membulatkan tekad untuk menjadi sumber berkat bagi banyak keluarga (karyawan saya) ketimbang kembali mencari berkat dari perusahaan lain maka saya tetap maju. Lalu dengan meningkatkan persistensi, saya tidak jemu-jemu dan terus menerus mencari terobosan sehingga akhirnya perlahan-lahan namun pasti keberhasilan mulai menampakkan dirinya.
Nah, bagi anda yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, mulailah memupuk persistensi kepada anak-anak anda. Kecuali anak-anak anda melakukan kesalahan negatif seperti mencoba merokok atau memakai narkoba, janganlah kesalahan itu langsung ditimpali dengan kemarahan anda. Kupaslah kesalahan itu dan tunjukkan bagaimana di kemudian hari ia bisa melakukannya lebih baik atau bahkan tanpa kesalahan. Jika anda selalu memarahinya begitu ia melakukan sebuah kesalahan, maka akan dipastikan ia akan segan untuk mencobanya lagi. Dengan demikian secara tidak sadar itu akan perlahan-lahan mematikan sikap persistensinya.
Ketika anak-anak anda mencoba melakukan sesuatu dengan baik atau bahkan sempurna, pujilah ia dengan tulus sehingga mereka akan terpacu lagi untuk melakukannya dengan lebih baik lagi untuk mendapatkan pujian anda. Banyak orang tua yang rajin memarahi anak-anaknya tetapi pelit dengan pujian, oleh karena itu jangan heran kalau anak-anak anda nantinya tumbuh menjadi anak yang mudah menyerah.
Memang masih ada beberapa lagi kunci sukses seperti integritas (yang pernah dibahas pada Majalah Pengharapan Desember 2006), sikap positif, keyakinan, tujuan yang jelas dan lain-lain. Tapi menurut saya, persistensi dan kebulatan tekad menempati urutan teratas kunci sukses bagi anda yang ingin sukses dan keluarga memainkan peranan besar untuk mencetak generasi-generasi selanjutnya yang persisten dan sukses. Tuhan Yesus memberkati!
Sumber : Majalah “Pengharapan”, Media komunikasi GPIA Immanuel, Edisi natal 2007.
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.






January 4th, 2008 at 1:26 pm
Menurut pengalaman saya selama ini, bahwa kegigihan dan usaha yang tidak mengenal kata menyerah adalah kunci utama dalam berbisnis.
December 7th, 2008 at 6:47 pm
Salam sukses semuanya,maju terus dunia usaha indonesia.indonesia jaya masyarakat sejahtera.bagi bpk ato ibu smua,klo ada info usaha yg bagus,sya tunggu infonya di sito.cahcilacap.tarsito8@gmail.com thnx
December 9th, 2008 at 9:19 am
Berusaha dari usaha kecil dan tetap fokus pada usaha tersebut.
Ingat gairah sangat diperlukan untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Salam Sukses
March 1st, 2009 at 6:42 pm
salam sukses slalu…
saya seorang mahasiswa yg mencoba peruntungan dibidang usaha pulsa. artikel diatas membuat saya bangkit dan tersadar krn slama ini bisnis saya statik disitu aja g ada kemajuan.. byk saingan dan perang harga adalah faktor penghambat saya.. smoga saja dgn adanya artikel ini dan smangat yg saya miliki saya bisa mempraktekkan apa yg menjadi ulasan diatas,dan smoga berhasil. terima kasih atas nasehat dan spiritnya.. dukungan dan sarannya saya tunggu diemail saya liant_co@yahoo.co.id
July 19th, 2009 at 3:40 am
kesuksesan sejati tidak ada yg didapatkan dgn instan,mesti melewati tahapan-tahapan yg panjang dan berliku-liku,oleh karenanya sangat dibutuhkan persisten dan kebulatan tekat utk melewati itu smua.
October 22nd, 2009 at 9:44 pm
[...] pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih teroganisir dan terarah, dan lakukan itu dengan penuh persistensi. Jika ada yang tahu bagaimana mengajar diri sendiri untuk bekerja dengan semua sumber daya yang [...]
April 4th, 2010 at 12:12 pm
EMPAT LANGKAH MENUJU JENIUS MATEMATIKA…
Menjadi Jenius Matematika mudah asah kita mengetahui dasar-dasar matematika yang sekali kita mengerti dan menguasainya maka kesulitan menghitung akan hilang dengan segera.
Dasar-dasar metematika sebenarnya cukup mudah. Semua orang bisa menambah dan men…
May 12th, 2011 at 2:13 am
salam indonesia maju
mulut, hati dan kaki harus bisa menuntun kita jadi orang sukses…
November 24th, 2011 at 6:38 am
website…
[...]PERSISTENSI & KEBULATAN TEKAD, 2 kunci sukses wirausaha | PARTISIMON DOT COM[...]…